
Rapat pembangunan huntap untuk korban bencana banjir. Foto dok pemkab Gayo Lues
Gayo Lues (Aentenews) – Pemerintah Kabupaten Gayo Lues, meminta pihak perusahaan yang mengerjakan proyek pembangunan hunian tetap (huntap) untuk warga korban bencana banjir di daerah itu melibatkan warga lokal sebagai pekerja agar memberikan dampak langsung terhadap perekonomian masyarakat setempat.
Dengan nilai pekerjaan mencapai ratusan miliar rupiah diminta tidak hanya menghasilkan rumah bagi korban bencana, tetapi juga memberikan dampak langsung terhadap pemulihan ekonomi masyarakat setempat.
Permintaan tersebut disampaikan Bupati Gayo Lues, Suhaidi saat memberikan arahan dalam rapat Pre-Construction Meeting (PCM) dan Mutual Check Nol (MC-0) pembangunan Hunian Tetap Relokasi Terpusat dan Prasarana, Sarana, dan Utilitas (PSU) pendukung Kabupaten Gayo Lues 2 dan Gayo Lues 3, Sabtu (26/9/20260.
Dalam arahannya, Bupati menilai proyek huntap merupakan salah satu pekerjaan dengan nilai terbesar dan iasanya kalau kita bekerja mungkin angka-angka Rp5 miliar itu sudah luar biasa, Rp10 miliar. Tetapi, hari ini ada kontrak yang dikerjakan kawan-kawan di Gayo Lues ini ada yang Rp150 miliar, bahkan ada yang mencapai Rp200 miliar.
Dengan besarnya nilai pekerjaan tersebut, perputaran ekonomi dari proyek itu seharusnya turut dirasakan masyarakat Gayo Lues, khususnya bagi waga lokal yang dilibatkan dalam pembangunan tersebut.
Ia secara khusus meminta perusahaan membuka ruang bagi tenaga kerja lokal, terutama untuk pekerjaan yang dapat dikerjakan masyarakat sesuai kemampuan dan keahlian mereka.
“Saya juga berharap dan kembali menitipkan masyarakat Kabupaten Gayo Lues dapat diberdayakan. Barangkali bisa untuk tukang, untuk gali fondasi dan lain-lain sebagainya. Tentu ini sesuai dengan kemampuan dari tukang-tukang yang ada di lokal ini,” ujarnya.
Seperti contoh, anggaran Rp600 Miliar lebih untuk proyek infrastruktur pemulihan bencana jangan lewat begitu saja. Bupati menyebut total nilai empat paket pembangunan huntap di Gayo Lues mencapai sekitar Rp600 miliar lebih. Karena itu, menurutnya, keterlibatan masyarakat lokal akan memberikan kontribusi besar terhadap pemulihan ekonomi pascabencana.
“Ini sangat berpengaruh. Artinya mungkin ada sekitar Rp600 miliar lebih. Jadi ini kalau kita juga melibatkan masyarakat lokal, ini akan sangat membantu pemulihan ekonomi masyarakat kita,” tegasnya.
Bupati kemudian menyinggung pengalaman pembangunan hunian sementara (huntara) sebelumnya. Saat itu, pemerintah daerah mendorong agar pekerjaan dapat dikerjakan oleh vendor dan masyarakat lokal.
Ia mencontohkan pembangunan huntara di Agusen, di mana masyarakat setempat banyak terlibat sebagai pekerja. Menurutnya, pola tersebut memberikan manfaat langsung bagi masyarakat karena penghasilan dari pekerjaan pembangunan dapat mengalir berputar di tengah masyarakat.
Bupati juga mengungkapkan bahwa salah satu pelaksana pembangunan huntap telah menyampaikan rencana melibatkan sekitar 50 persen pekerja dari masyarakat lokal dan diharapkan komitmen tersebut dapat diterapkan oleh seluruh penyedia jasa yang mengerjakan paket huntap di Gayo Lues.
Tidak hanya pekerja lokal yang diberdayakan dalam pembangunan huntap atau proyek fisik lainnya, melainkan juga membuka peluang kepada pengusaha lokal menjadi mitra bagi vendor pelaksana proyek.
Sebelumnya, Kasatker Perumahan Balai P2P Kementerian PKP Provinsi Aceh, Riki Hidayat, dalam rapat tersebut juga meminta penyedia jasa memperhatikan kualitas, ketepatan waktu, kesiapan sumber daya, material, peralatan, serta keselamatan konstruksi.
Pembangunan huntap tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah mempercepat rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana dan longsor di Aceh, khususnya di Kabupaten Gayo Lues.
Dengan nilai pekerjaan yang besar dan waktu pelaksanaan yang terbatas, pemerintah daerah berharap proyek tersebut tidak hanya selesai tepat waktu, tetapi juga menjadi salah satu penggerak pemulihan ekonomi masyarakat Gayo Lues.
Aentenews by Ampelsa




