Simak cara Pemkab Aceh Barat cegah stunting

Meulaboh (Aentenews) – Wakil Bupati Aceh Barat, Said Fadheil menyatakan bahwa program Gerakan Aceh Barat tanggap resiko stunting adalah upaya pemerintah dalam mencegah stunting.
Hal tersebut disampaikan wabup saat Sosialisasi Sistem Early Warning Gizi 1000 HPK Untuk Pencegahan Stunting dan Wasting di Kabupaten Aceh Barat.
Kegiatan Gerakan Aceh Barat Tanggap Resiko Stunting tersebut dilaksanakan di Aula Teuku Umar, Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) pada Rabu (17/6).
Said Fadheil mengatakan, kegiatan tersebut merupakan langkah strategis dalam memperkuat upaya bersama guna pencegahan stunting, wasting dan Kekurangan Energi Kronik (KEK) melalui deteksi yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak.
“Stunting masih menjadi salah satu tantangan besar dalam pembangunan SDM. Dampak stunting tidak hanya terbatas pada gangguan pertumbuhan fisik anak tetapi juga berkontribusi terhadap pertumbuhan perkembangan kognitif, prestasi pendidikan, produktivitas ekonomi, kualitas kesehatan serta daya saing bangsa di masa depan,” kata Said.
Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) pada tahun 2025 jumlah prevalensi stunting di Aceh Barat sekitar 33 persen dan pada tahun ini turun menjadi 25,8 persen. Namun, masih berada di atas rata 0 rata angka nasional yaitu 18 persen.
“Kondisi ini menunjukkan bahwa masih terdapat ibu hamil, bayi dan anak yang belum memperoleh deteksi resiko dan intervensi secara optimal pada periode 1000 hari pertama kehidupan,” katanya.
Maka dari itu kata dia, Pemkab Aceh Barat menyambut baik upaya nyata yang dilakukan oleh Universitas Teuku Umar (UU) dalam mengembangkan inovasi melalui dashboard gizi yang terintegrasi dengan sistem early warning gizi (EWS) pada 1000 hari pertama kehidupan.
“Melalui kegiatan ini diharapkan akan terbentuk sinergi yang kuat antara pemda,fasilitas Pelayanan Kesehatan, pemerintah gampong, perguruan tinggi dan masyarakat dalam membangun sistem pencegahan stunting yang lebih responsif, berbasis teknologi dan berkelanjutan,” ujar Said.
Dia juga berpesan kepada seluruh peserta khususnya para tenaga kesehatan di masing – masing Puskesmas untuk benar – benar memperhatikan dan menyimak pemaparan yang akan disampaikan oleh narasumber dan tim peneliti, agar langkah penanganan risiko stunting di Aceh Barat dapat berjalan optimal.//Aentenews by RIO.




