AcehPendidikan

Pesan “suara dari kegelapan” untuk Kak Na

Aceh Besar (Aentenews) – Jauh dari kebisingan, berjarak sekitar 20 kilometer dari pusat Kota Banda Aceh, di kawasan Ladong, Kabupaten Aceh Besar, berdiri sebuah panti atau lengkapnya diberinama UPTD Panti Sosial Disabilitas Rumoh Seujahtra Beujroh Meukarya.

“Di sini nyaman petugasnya baik-baik Bu, tapi kalau bisa, sudahlah kami netra, janganlah kami dijauhkan dari kota,” demikian sepenggal kalimat yang diucapkan seorang siswa kepada Ketua Tim Penggerak PKK Aceh Marlina Muzakir, sapaan akrab Kak Na.

Kemudian, kalimat bernada harapan juga diucapkan oleh anak panti itu. “Kami juga minta ditambahkan guru Bu, karena sudah banyak guru yang pindah karena sudah lewat P3K,” ujar salah seorang anak tunanetra kepada Kak Na.

Mendengarkan permintaan tersebut, Kak Na berjanji akan segera berkoordinasi dengan dinas terkait untuk membahas terkait penambahan guru serta kemungkinan memindahkan ke lokasi yang dekat dengan kota.

“Alhamdulillah bisa berkumpul dengan anak-anak hebat di sini. Semangat mereka sangat luar biasa. Insya Allah, Pemerintah Aceh melalui Dinas Sosial dan dinas terkait lainnya akan berusaha memberikan pendampingan, pendidikan dan pelatihan untuk mereka,” ucap Kak Na sebelum meninggalkan RSBM.

Ketua TP PKK Aceh yang juga menjabat sebagai Ibunda Guru Aceh, berkunjung ke UPTD Panti Sosial Disabilitas Rumoh Seujahtra Beujroh Meukarya, di kawasan Ladong, Rabu (5/11).

Kedatangan Kak Na yang didampingi Istri Ketua DPR Aceh Rizawati Zulfadhli dan Sekretaris Dinas Sosial Aceh Chaidir disambut dengan lantunan Shalawat warga panti.

Beberapa tembang lagu pun dipersembahkan warga panti sebagai ucapan terima kasih atas kunjungan first lady Aceh itu.

Namun, istri Gubernur Aceh itu terlihat sangat antusias saat Rifal (23 tahun) melantunkan ayat suci Al-Qur’an. Momen ini menjadi spesial, bukan karena Rifal seorang warga binaan netra yang membacanya dengan merdu. Tapi Rifal membaca Al-Quran Braille.

Bagi masyarakat normal, Al-Quran Braille tentu unik, karena Al-Qur’an yang dicetak pertama kali di Yordania pada 1952 ini hanya berupa titik-titik timbul yang diaplikasikan di kertas berwarna putih.

Al-Qur’an Braille yang dibaca oleh Rifal merupakan terbitan Kementerian Agama RI bertanda Tashih tahun 2017.

“Kiban cara ta baca dan teumuleh huruf Nyan Rifal? (Bagaimana cara kita membaca dan menulis huruf Braille itu Rifal)” tanya Kak Na penasaran.

Rifal kemudian memberikan penjelasan serta memberi kursus singkat kepada Kak Na, tentang cara menulis dan membaca Al-Quran Braille.

Setelah belajar singkat bersama Rifal, Kak Na selanjutnya berdialog dengan teman-teman Rifal yang lain. Sambil membagikan kue donat, Kak Na mendengarkan keluh kesah dan cerita bahagia warga RSBM.

Meski mengaku nyaman dan aman dengan pembinaan dan bimbingan para petugas UPTD, namun warga RSBM berharap bisa dipindahkan ke dekat kota, agar bisa berkarya dan mengaplikasikan ilmu yang mereka dapat.

RSBM saat ini dihuni oleh 39 tuna netra yang terdiri 11 perempuan dan 27 laki-laki. Panti ini sebelumnya berada di sekitar Kampus Jabal Ghafur Sigli. Pascatsunami, Jepang membangun komplek baru di lokasi saat ini.

Dari Ladong, Kak Na dan rombongan bertolak ke UPTD Panti Tuna Sosial yang berada tidak jauh dari RSBM. Selanjutnya, rombongan bertolak ke UPTD Rumoh Seujahtra Geunaseh Sayang di kawasan Ulee Kareng.

Saat ini, UPTD RSGS menampung 55 orang lansia yang terdiri sebanyak 33 perempuan dan 23 laki-laki.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button