
News/Foto By Ampelsa
Banda Aceh (Aentenews) – Kenaikan harga sejumlah komoditas pangan selama Desember 2025 di provinsi Aceh mengakibatkan daerah tersebut mengalami inflasi tertinggi 6,7 persen (year on year).
Tiga provinsi yang terdampak bencana alam banjir dan longsor di Pulau Sumtera dan provinsi Aceh masuk dalam kelompok provinsi tertinggi mengalami inflasi pada Desember 2025.
Menurut Badan Pusat Statisk (BPS), tingginya angka inflasi di Sumtera, terutama provinsi Aceh pada angka 6,7 persen (year on year), akibat kenaikan harga sejumlah komoditas pangan.
Kenaikan harga komoditas bahan pangan merupakan efek dari bencana alam banjir bandang dan longsor sehingga menyumbang terjadinya inflasi di Aceh pada Desember 2025 karena pasokan bahan pangan dan komoditas lainnya terhambat dan stok menipis.
Beberapa kelompok komoditas yang menyumbang inflasi tersebut, antara lain menguatnya harga sejumlah komoditas, antara lain, harga daging ayam, bawang merah, cabai merah dan sejumlah komoditas lainnya.
Pemantauan di pusat perbelanjaan Pasar Al Mahirah, harga daging ayam sejak Desember 2025 hingga awal Januari 2026 masih bertahan tertinggi Rp75.000 hingga Rp80.000 per ekor menurut besarannya.
Menurut pedagang, Rusli di pasar Al Mahirah, Banda Aceh, Selasa (6/1/2026), tingginya harga daging ayam potong karena stok berkurang. Bahkan pada awal Desember 2025 sempat terjadi krisis stok daging ayam potong.
Pedagang lainnya yang menjual cabai merah dan bawang merah di daerah mengakui awal Desember 2025 harga sejumlah komoditas pangan naik drastis, akibat stok berkurang efek dari pasokan barang dari luar daerah terhenti dampak bencana alam banjir bandang.
Menurut Aboi , pedagang cabai merah dan bawang merah di pusat perbelajaan itu , pada awal Januari 2025 harga komdoitas pangan sudah kembali normal.
Seperti cabai merah pada awal Januari 2025 seharga Rp35.000 per kilogram, sedangkan sebelumnya seminggu pascabencana banjir mencapai Rp70.00 hingga Rp100.000 per kilogram.
Begitu juga bawang merah saat ini sudah stabil mencapai Rp40.000 per kilogram, sebelumnya seminggu pascabencana alam kisaran Rp80.000 per kilogram.




