Banda Aceh

Afdhal: Safari Ramadhan tak sekedar agenda rutin

Foto Dok Diskominfotik Banda Aceh

Banda Aceh (Aentenews) – Wakil Wali Kota Banda Aceh Afdhal Khalilullah, menegaskan bahwa Safari Ramadhan dari satu masjid ke masjid lainnya di kota ini bukan sekedar agenda rutin, tetapi momentum mempererat silaturrahmi serta memastikan pembangunan benar-benar dirasakan masyarakat.

“Ramadan adalah bulan evaluasi. Bagi kami di pemerintahan, ini juga bulan muhasabah untuk memastikan setiap program pembangunan menyentuh kebutuhan riil warga,” katanya belum lama ini di Banda Aceh.

Saat Safari Ramadhan di Gampong Lamdom, Kecamatan Lueng Bata, Wakil Wali Kota Banda Aceh yang akrab di sapa Bang Afdhal, menegaskan bahwa manifestasi program yang dilakukan pemerintahan Wali Kota Illiza– Wakil Wali Kota Afdhal, tercatat dalam data dan fakta.

Ia menegaskan kembali bahwa kepemimpinan Illiza–Afdhal berorientasi pada program yang nyata, terukur, dan langsung berdampak bagi masyarakat.

Di bidang ekonomi dan kesejahteraan sosial, Pemerintah Kota Banda Aceh berhasil menekan angka kemiskinan menjadi 5,45 persen, dengan sekitar 4.000 jiwa keluar dari garis kemiskinan.

Meski demikian, pemerintah tetap memberi perhatian khusus kepada warga yang masih tergolong miskin ekstrem dengan pendapatan di bawah Rp800 ribu per bulan melalui penguatan UMKM, akses permodalan, serta program pemberdayaan berbasis gampong.

Berbagai kolaborasi lintas sektor, termasuk subsidi daging meugang, turut dilakukan untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus melindungi tradisi lokal.

Di sektor pembangunan manusia, pemerintah menaruh perhatian besar pada penguatan karakter generasi muda melalui pendidikan diniyah, pembinaan remaja masjid, serta pelatihan keterampilan melalui Banda Aceh Academy.

Upaya ini bertujuan membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara spiritual, berakhlak, dan memiliki kepedulian sosial di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan arus informasi.

Sementara itu, pada aspek pelayanan publik dan kesehatan, berbagai reformasi terus dilakukan. Angka stunting di Banda Aceh menunjukkan tren penurunan menjadi 21,7 persen melalui penguatan layanan kesehatan dasar, program jemput bola seperti Dokter Saweu, serta peningkatan fasilitas puskesmas.

Cakupan layanan air bersih juga telah menjangkau lebih dari 92 persen penduduk, bahkan selama Ramadan air bersih untuk masjid dan meunasah digratiskan guna mendukung kelancaran ibadah masyarakat. Reformasi birokrasi berbasis teknologi informasi turut dioptimalkan agar pelayanan semakin cepat, transparan, dan akuntabel.

Di bidang lingkungan dan ketertiban sosial, komitmen menjaga kebersihan kota terus diperkuat, tercermin dari keberhasilan meraih Adipura ke-11. Namun pemerintah menekankan bahwa budaya bersih harus menjadi karakter bersama, bukan sekadar target penghargaan.

Penegakan syariat Islam dan ketertiban umum juga dilakukan secara humanis dan edukatif, termasuk penguatan peran Satpol PP dan Wilayatul Hisbah di tingkat kecamatan untuk mempercepat penyelesaian persoalan masyarakat serta menjaga rasa aman dan nyaman selama Ramadan.

Afdhal juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus memperkuat kolaborasi dalam membangun Banda Aceh.

“Pemerintah tidak dapat berjalan sendiri. Spirit Kota Kolaborasi menempatkan pemerintah sebagai pelayan dan masyarakat sebagai mitra. Dengan kebersamaan, insya Allah Banda Aceh menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur,” pungkasnya.//Redaksi.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button