Pengusaha di Aceh “menjerit” harga material bangunan naik

gambar ilustrasi perumahan
Banda Aceh (Aentenews) – Sejumlah pengusaha yang bergerak bidang pembangunan perumahan (properti), khususnya rumah bersubsidi di Banda Aceh “menjerit” karena naiknnya harga material bangunan sejak sebulan terakhir.
“Hampir semua material bangunan naik sejak sebulan terakhir. Modal yang kita keluarkan nyaris tak sebanding dengan nilai jual rumah, terutama rumah bersubdi yang merupakan program pemerintah,” kata Memet, pengusaha properti di Banda Aceh, Jumat.
Kenaikan rata-rata material bangunan, misal besi, seng dan alumanium kini berkisar antara 15 sampai 20 persen, dibandingkan sebelumnya. Bahkan, batu-bata kini berkisar antara Rp800-Rp850 per butir dari sebelumnya Rp600 – Rp650 butir.
Sementara harga jual rumah baik komersil maupun bersubsidi tidak mengalami kenaikan. “Khusus rumah subsidi, kenaikan material bangunan membuat kami sulit, sebab harganya sudah ditetapkan pemerintah,” kata Memet menambahkan.
Membangun rumah subsidi, katanya ternyata lebih sulit dibanding komersial dan keuntungannya sangat tipis, apalagi dengan kondisi harga material yang terus mengalami kenaikan.
“Itu baru soal naiknya harga meterial. Masalah lainnya, misal aplikasi BP Tapera dan pengurusan akad di perbankan juga membuat kami repot dan binggung, yang sering eror dan lain-lain,” kata Memet menambahkan.
Memet menyatakan pihaknya kini telah menghentikan membangun rumah bersubsidi dikarena berbagai faktor tersebut. “Kami berharap pemerintah agar membantu mencarikan jalan keluar atau solusi, apa yang kami alami di lapangan,” tambah dia menegaskan.
Ada hal yang menjadi dilema bagi pengusaha saat ini, jika melanjutkan usaha properti, maka cost yang harus dikeluarkan terus bertambah, namun jika dihentikan maka akan berdampak kepada pemberhentian tenaga kerja.
“Seharusnya, situasi dan kondisi seperti itu harus dipahami oleh pemerintah dan kami berharap segera ada solusinya,” ujar dia lagi.//Redaksi.




