Kuah Beulangong Ateuk Munjeng, Kuliner Indatu menggugah rasa

Banda Aceh (Aentenews) – Jika bertandang ke Aceh Besar dan Banda Aceh, rasanya belum lengkap jika saat makan siang atau malam, anda tidak menikmati sajian kuliner yang sejarahnya sudah populer sejak zaman Kesultanan Aceh.
Namanya “Kuah Beulangong” yang merupakan menu wajib terutama pada acara-acara sakral bagi masyarakat di dua daerah tersebut.
Meski setiap gampong di Aceh Besar dan Kota Banda Aceh, pasti disediakan “Kuah Beulangong” sebagai menu utama menjamu undangan saat pesta perkawinan, kenduri hajatan, sunat rasul, syukuran, Nuzul Quran (tamat daruh/qhatam Quran), peringatan Maulid Nabi Muhammad SWA, dan sebagainya.
Namun, Kuah Beulangong bukan sekadar hidangan, melainkan perwujudan warisan budaya indatu yang menyimpan cerita panjang tentang akar dan identitas masyarakat Aceh.
Sebagai kuliner peninggalan indatu, hidangan ini membawa rasa khas yang tak terlupakan dan menjadi jembatan menghubungkan masa kini dengan jejak langkah leluhur.
Citra rasa yang menggugah
Namun Kuah Beulangong yang bahan baku utama daging sapi, dan dimasak serta disajikan masyarakat Gampong Ateuk Munjeng, Kecamatan Baiturrahman Kota Banda Aceh, rasanya pasti beda dan akan menggugah selera bagi siapapun yang mencicipinya.
Perpaduan rempah-rempah pilihan dengan bahan-bahan lokal yang diolah secara tradisional dalam belanga (kuali berukuran besar) menambah cita rasa khas yang kaya akan rempah-rempah.
Irwansyah, tokoh muda Kota Banda Aceh mengaku, jika ia mendapat undangan kenduri dari masyarakat Gampong Ateuk Munjeng, maka langsung terbayang enaknya citra rasa Kuah Beulangong, meski disetiap gampong juga menyediakan sajian kuliner yang sama.
“Enak, dan enak sekali. Lauk makan siang dengan menu Kuah Beulangong yang dimasak warga Ateuk Munjeng memang enak,” katanya mengisahkan.
Irwansyah, tersirat menyampaikan pesan saat pengukuhan Tua Peut Gampong (TPG) Ateuk Munjeng, warisan yang menghadirkan sajian Kuah Beulangong dengan citra rasa yang menggugah selera makan ini harus tetap dipertahankan.
Daging sapi dan sayur nangka sebagai komponen utama, memberikan tekstur yang melengkapi harmoni rasa dari kuah yang hangat dan penuh makna.
Setiap suapan Kuah Beulangong dari Gampong Ateuk Munjeng bukan hanya menyentuh lidah, melainkan juga menggugah ingatan akan kebersamaan keluarga dan tradisi yang diwariskan turun-temurun.
“Yang memasak Kuah Beulangong dengan citra rasa yang enak di gampong kami juga bukan semua orang bisa. Tapi memasak Kuah Beulangong yang enak terkadang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang tertentu. Terkadang memang keturunan dari orang tuanya, ” kata warga Ateuk Munjeng, Ilham.
Kuliner ini menjadi simbol kekayaan budaya indatu yang terus dilestarikan di Aceh Besar dan Kota Banda Aceh, khususnya di Gampong Ateuk Munjeng.
Proses memasak, terutama saat perayaan Nuzul Quran di Aceh Besar dan Kota Banda Aceh, dilakukan secara bergotong royong mulai dari penyembelih sapi, penyiangan daging menjadi potongan kecil-kecil, memotong nangka, buah pisang hingga batang pisang muda sebagai sayur pelengkap kuah.
Hingga kini, Kuah Beulangong Ateuk Munjeng tetap menjadi hidangan utama dalam berbagai acara penting masyarakat, sehingga menjadikannya bagian tak terpisahkan dari identitas budaya indatu.// Aentenews by Azhari




