
Foto Aentenews by Ampelsa
Oleh Azhari
Banda Aceh (Aentenews) – Bencana hidrometeorologi akhir November 2025 tak hanya melahirkan duka karena kehilangan nyawa dan harta bagi warga di 18 kabupaten dan kota di Aceh.
Banjir besar di Aceh Tamiang, Aceh Utara, Aceh Timur, Kota Langsa, Aceh Tengah, Bener Meriah, Pidie Jaya, Gayo Lues, Bireun itu meninggalkan lumpur tebal yang mengubur rumah, infrastruktur publik, dan mata pencaharian penduduk.
Puluhan ribu ekor kerbau, sapi, kambing, ayam, bebek, dan ikan peliharaan yang selama ini menjadi penopang harian ekonomi masyarakat kecil, lenyap.
Duka akibat banjir dan longsor pun bertambah pilu tatkala kayu-kayu gelondongan ikut bersama air yang menerjang dan memorak-porandakan semua yang dimiliki warga di daerah-daerah terparah diterjang bencana banjir dan longsor.
Semua itu akhirnya menggerakkan hati para pemimpin agar lara tak bertambah di saat warga menghadapi hari-harinya menjelang puasa.
Setelah beberapa pekan bencana berlalu, Gubernur Aceh Muzakir Manaf, atau yang biasa disapa Mualem, pun menyampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto bahwa di Aceh ada tradisi meugang setiap menyambut Ramadhan.
Mualem pun menyampaikan kepada Presiden bahwa Aceh butuh dukungan pengadaan bantuan daging meugang untuk masyarakat daerah bencana, agar para korban bisa merayakan tradisi sakral meski mereka masih berada di pengungsian atau barak hunian sementara.
Bak gaung bersambut. Presiden Prabowo menyetujui penggunaan anggaran pengadaan sebanyak 1.544 ekor sapi dan dagingnya dibagikan ke warga di daerah terdampak bencana hidrometeorologi di provinsi berpenduduk sekitar 5,2 juta jiwa tersebut.
“Kita apresiasi kepedulian Presiden Prabowo Subianto dan itu juga menunjukkan kehadiran negara dalam membantu masyarakat yang sedang sulit di saat mereka menghadapi bulan puasa Ramadhan,” kata tokoh muda Aceh Khalid.
Politisi muda Partai Golkar itu menyatakan Aceh memiliki tradisi unik yang menjadi momen dinanti-nanti setiap tahun menjelang kedatangan Bulan Suci Ramadhan. Meugang adalah tradisi masyarakat untuk menyembelih hewan ternak seperti kerbau dan sapi.
Biasanya, kalangan masyarakat yang punya kemampuan secara ekonomi akan menyembelih hewan dan daging hewan itu dibagikan kepada keluarga, tetangga, sanak saudara, atau mereka yang membutuhkan.
Meski santapan daging setiap hari mereka konsumsi, namun memasak dan menikmati hidangan menu daging pada hari meugang (sehari atau dua hari menjelang puasa) itu memiliki makna tersendiri bagi masyarakat.
“Uroe Meugang” bisa dimaknai hari penyembelihan hewan ternak, biasanya sapi atau kerbau. Dan harga daging pada “Uroe Meugang” akan lebih mahal jika dibandingkan hari-hari biasa di Aceh. Terkadang harganya bisa naik mencapai 30 persen dibanding sebelum meugang.
Kenaikan harga daging itu dipicu meningkatnya permintaan masyarakat yang bisa mencapai di atas 100 persen pada hari meugang.
Namun, di balik penyembelihan hewan di hari meugang itu juga terkandung nilai-nilai luhur yang menjadi bagian dari identitas budaya dan spiritual masyarakat Aceh.
Beragam makna untuk menyebut “uroe meugang” di tengah-tengah masyarakat. Meugang bisa disebut sebagai tradisi dalam mempererat tali persaudaraan dan hubungan antarwarga, menghilangkan kesenjangan dan memperkuat rasa kebersamaan.
Jadi tak heran, jika perantau Aceh memilih mudik ke kampung halaman setiap hari meugang, terlebih mereka yang masih memiliki orangtua kandung. Mudik menjadi pilihan mudik di Aceh ketimbang lebaran.
Hal tersebut mengandung makna bahwa di hari meugang, perantau ingin menikmati daging yang dimasak oleh orangtuanya, kemudian disantap bersama saudara atau tetangganya di rumah orangtua mereka.
Selain itu, sebagian daging “meugang” disalurkan kepada kaum dhuafa, yatim piatu, dan orang yang membutuhkan, sebagai bentuk persiapan hati untuk menjalankan ibadah di bulan Ramadhan.
Ada juga yang menyebut “uroe meugang” sebagai momen membersihkan diri secara fisik dan rohani untuk menyambut kedatangan bulan yang penuh berkah dengan hati yang lapang dan penuh makna.
Bantuan pengadaan daging kepada korban banjir dan longsor paling tidak “Uroe Meugang” tetap menjadi tradisi yang masih bermakna ditengah-tengah duka bencana hidrometeorologi Aceh. //Redaksi.



