Aceh

Pendampingan psikososial pemulihan warga terdampak bencana

Sejumlah anak memperlihatkan hasil karya mewarnai pada kegiatan pendampingan psikososial dan edukasi di salah nsatu daerah terdampak bencana, kabupaten Bireuen. foto humas BKKBN Aceh

Banda Aceh (Aentenews) – Kemendukbangga/BKKBN Provinsi Aceh terus memperkuat komitmennya dalam membangun keluarga  sehat dan berdaya melalui kegiatan pendampingan psikososial dan sosialisasi kesehatan guna membangun keceriaan, kepercayaan diri, dan rasa aman warga dan anak-anak di daerah terdampak bencana banjir.

Dalam Pendampingan Psikososial itu, Kemendukbangga/BKKBN Provinsi Aceh  melibatkan Forum GenRe Aceh,  Penyuluh Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) dan tenaga kesehatan setempat dengan menyasar sejumlah daerah terdampak bencana hingga ke tingkat desa, kata Kepala Perwakilan BKKBN Aceh, Safrina Salim di Banda Aceh, Rabu (21/1).

“Kegiatan Psychological First Aid (PFA) atau pertolongan pertama psikososial sebagai upaya memberikan rasa aman, dukungan emosional, dan ruang ekspresi yang sehat bagi anak-anak dan remaja,” katanya.

Rangkaian kegiatan tersebut dilaksanakan di Desa Kubu pada 15 Januari 2025 dan dilanjutkan di Desa Cot Ara 16 Januari 2026 yang merupakan desa terparah terdampak bencana banjir . Kegiatan ini menyasar ibu hamil, pasangan usia subur (PUS), anak-anak, remaja, serta kelompok rentan lainnya sebagai bagian dari upaya memperkuat kualitas keluarga sejak dari unit terkecil masyarakat.

Selanjutannya, di desa Cot Ara, petugas BKKBN Aceh fokuskan pada program 3B yang mencakup perhatian terhadap Ibu Hamil, Ibu Menyusui, Balita, dan Lansia, sedangkan di desa  Kubu, memberikan pendampingan psikososial dilengkapi dengan edukasi Triad Kesehatan Reproduksi Remaja (Triad KRR) mencakup pencegahan pernikahan dini, perilaku seksual berisiko, dan penyalahgunaan NAPZA, serta pengenalan dasar tentang kesehatan reproduksi.

Di kedua desa ini kita memberikan sosialisasi mengenai Keluarga Berencana (KB), termasuk penjelasan tentang berbagai jenis alat kontrasepsi yang aman, efektif, dan sesuai dengan kebutuhan masing-masing keluarga.

“Edukasi ini bertujuan untuk menghilangkan rasa takut dan keraguan masyarakat terhadap KB, sekaligus menegaskan manfaatnya bagi kesehatan ibu, anak, serta kesejahteraan keluarga secara berkelanjutan,” kata Safrina Salim.

Pelayanan KB dilakukan dengan dukungan aktif Penyuluh Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) Kabupaten Bireuen dan bidan setempat, sehingga masyarakat dapat memperoleh informasi sekaligus layanan secara langsung dan terintegrasi.

Rangkaian kegiatan ini mencerminkan sinergi nyata lintas sektor antara pemerintah, tenaga lapangan, dan komunitas generasi muda dalam menghadirkan pelayanan yang holistik di tingkat desa.

Pendekatan yang digunakan tidak semata-mata berorientasi pada penyampaian informasi, tetapi juga pada pendampingan, empati, dan kehadiran langsung di tengah masyarakat, khususnya di daerah terdampak bencana.  Aentenews by Ampelsa.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button