HUT ke 800 Samudera Pasai, Aceh Utara gelar Festival Layang Tunang “Peuleupi Hate”

Ilustrasi. Festival Layang di Aceh Besar, Foto Aentenews/Ampelsa
Aceh Utara (Aentenews)– Dinas Pemuda, Olahraga dan Ekonomi Kreatif (Disporaparekraf) Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, menggelar Festival Layang Tunang bertajuk “Peuleupi Hate” atau penyenang hati dalam rangkaian peringatan HUT ke 800 Samudera Pasai Aceh Utara di Lapangan Matang Ben, Kecamatan Tanah Luas, Kabupaten Aceh Utara, Rabu (9/9/2026).
Festival layang tunang ini menjadi salah satu upaya untuk kembali menghidupkan permainan tradisional yang selama ini tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat Aceh Utara. Sebanyak 27 layangan dijadwalkan ikut berlaga dan diterbangkan di udara dalam kegiatan tersebut.
Kepala Disporaparekraf Kabupaten Aceh Utara, Zulkifli, Selasa (8/9/2026), mengatakan festival tersebut terbuka bagi masyarakat Aceh Utara dengan sejumlah persyaratan yang telah ditetapkan panitia. Salah satu syarat utama, peserta harus merupakan masyarakat Aceh Utara dan memiliki layang tunang sendiri.
Ia mengatakan, penyelenggaraan Festival Layang Tunang Peuleupi Hate diharapkan dapat menjadi momentum untuk membangkitkan kembali permainan tradisional di Aceh Utara. Permainan layang tunang memiliki nilai budaya yang patut dipertahankan dan dilestarikan serta diperkenalkan kepada generasi penerus di Aceh.
“Kegiatan ini menjadi titik tolak kebangkitan permainan tradisional, kalau tidak kita yang memulai, siapa lagi,” kata Zulkifli.
Selain menjadi ajang kompetisi, festival ini juga diharapkan dapat menjadi ruang bagi masyarakat untuk kembali menikmati permainan tradisional yang dahulu melekat dalam kehidupan sehari-hari. Permainan layang-layang tidak hanya membutuhkan layangan yang sesuai, tetapi juga keterampilan peserta dalam menerbangkan dan mengendalikan layangan di udara.
Pada Fesival Layang Tunang itu, Panitia membatas hanya 27 orang atau masing-masing kecamatan diwakili satu orang
Menurutnya, pembatasan jumlah peserta, agar setiap kecamatan memiliki kesempatan untuk mengirimkan perwakilannya dalam festival permainan tradisional tersebut. Dengan demikian, festival tidak hanya menjadi ajang perlombaan, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkenalkan kembali layang tunang kepada masyarakat di berbagai kecamatan.
Dalam perlombaan tersebut, peserta tidak dapat menggunakan layangan dengan ukuran sembarangan. Panitia telah menentukan ukuran layangan yang akan dipertandingkan, yakni berkisar antara 50 hingga 60 sentimeter dan panjang benang yang digunakan peserta mencapai 400 meter. Ketentuan tersebut menjadi bagian dari persyaratan perlombaan yang harus dipenuhi oleh para peserta.
Melalui Festival Layang Tunang Peuleupi Hate, Disporaparekraf Aceh Utara ingin mendorong agar permainan tradisional tetap hidup di tengah perkembangan zaman. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi momentum untuk memperkenalkan kembali layang tunang kepada masyarakat dan menjadikannya sebagai salah satu permainan tradisional yang terus mendapat ruang di Aceh Utara.
Aentenews by Ampelsa




