Aceh

Sekda Aceh sebut banjir dan longsor 2025 bencana terparah

Banda Aceh (Aentenews) – Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh M Nasir menyebutkan bahwa banjir dan tanah longsor 2025 yang melanda 19 kabupaten dan kota itu merupakan bencana alam terparah di provinsi ujung paling barat Indonesia ini.

“Ini bencana terparah sebab seumur hidup baru kali ini merasakan bencana banjir terparah dan luas melanda Aceh. Kabupaten Aceh Tamiang menjadi wilayah yang paling luas dampaknya, dimana seluruh kota tertutup lumpur,” katanya menegaskan.

Hal tersebut disampaikan M Nasir saat menerima kunjungan Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) RI perwakilan Aceh di Posko Komando Penanggulan Bencana Hidrometeorologi Pemerintah Aceh di Banda Aceh, Kamis.

Pemerintah Aceh bersama Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) berkomitmen penuh mengoptimalkan kembali jalur lintas darat yang rusak parah akibat bencana banjir dan longsor yang melanda wilayah tersebut.

Sinergi ini difokuskan pada percepatan pemulihan konektivitas utama, terutama jalur yang menghubungkan wilayah barat dan timur Aceh.Upaya perbaikan dan pembukaan akses menjadi prioritas utama.

Kolaborasi dengan BPJN sangat vital, mengingat kerusakan yang terjadi mencakup putusnya total jalur darat penghubung penting, seperti ruas Bireuen ke Banda Aceh yang terputus akibat tergerusnya tiga jembatan.

“Alhamdulillah akses jalur lintas sudah tembus. Distribusi logistik akan terus dipacu. Terkait jalur lintas Bireuen – Aceh Utara, kita meminta kepada Dinas PUPR Aceh dan BPJN agar jembatan Bailey Awe Geutah segera fungsional untuk jalur alternatif,” ucapnya.

Selanjutnya, M Nasir mengakui masih ada beberapa lokasi, termasuk di sejumlah daerah seperti Kota Langsa dan Kabupaten Aceh Timur, yang masih belum terakses, sehingga bantuan logistik pun diupayakan via laut, meskipun pengiriman awal melalui Kuala Idi, Aceh Timur, sempat terkendala.

Kemudian, BBM disuplai via udara ke wilayah poros tengah kondisi terisolir juga melanda wilayah tengah Aceh, seperti Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues. Untuk menjangkau daerah ini, distribusi bantuan logistik dilakukan melalui udara.

“Bantuan ke sana lewat udara, berkerja sama dengan Kodam IM, Polda Aceh, dan BPPD. Bantuan logistik ke Kabupaten Bener Meriah, Aceh Tengah dan Gayo Lues sudah didistribusikan, baik melalui dropping udara maupun langsung ke wilayah-wilayah terisolir,” jelasnya.

Masalah konektivitas juga menjadi perhatian, dimana jalur darat penghubung Bireuen ke Banda Aceh putus total akibat tiga jembatan yang tergerus banjir. Pemerintah Aceh berencana membangun jembatan bailey Awe Geutah yang diharapkan rampung dalam tiga hari ke depan.

Penyelesaian jembatan bailey ini vital karena akan menembuskan akses jalur Banda Aceh menuju ke Kabupaten Aceh Tamiang.

“Begitu halnya dengan pengerjaan jalan dan jembatan dari Simpang KKA menuju Kabupaten Bener Meriah. Dari hasil data kita peroleh dari tim lapangan, sepanjang 42 kilometer sudah selesai dikerjakan.

Pemerintah Aceh sudah berkoordinasi dengan Bupati Bener Meriah untuk mengarahkan alat berat untuk proses membantu penyelesaian jalur lintas tersebut, ujar M Nasir.

Terkait komunikasi, 48 unit Starlink telah dikirim ke daerah terdampak. Namun, pasokan listrik dan BBM menjadi hambatan utama operasional Starlink. Beruntung, Pertamina telah berkomitmen menyuplai satu ton BBM per hari via udara untuk mengatasi masalah ini.// Redaksi.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button