Aceh Tengah

Mahasiswa minta masyarakat perkuat solidaritas ditengah bencana

Banda Aceh (Aentenews) – Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Syiah Kuala (USK), Faris, meminta masyarakat khususnya di dataran tinggi Tanah Gayo terus memperkuat solidaritas ditengah menghadapi situasi sulit sebagai dampak bencana banjir dan tanah longsor.

“Dalam situasi darurat, masyarakat harus terus memperkuat solidaritas. Jangan mengedepankan emosi, kekecewaan, apalagi sampai sentimen kesukuan,” katanya kepada aentenews.com di Banda Aceh, Selasa.

Hal tersebut disampaikan menyoroti sikap sebagian masyarakat yang dinilai mulai keluar dari semangat kemanusiaan.

Faris, putra kelahiran Tanoh Gayo itu menilai masih banyak warga terdampak yang berjuang memenuhi kebutuhan dasar, termasuk pangan. Kondisi tersebut semestinya menjadi fokus bersama, bukan justru saling menyalahkan di ruang publik.

“Di saat masih ada warga yang kelaparan dan kehilangan tempat tinggal, saya mengajak masyarakat untuk menahan diri. Jangan biarkan emosi mengalahkan nurani,” ujar Faris.

Ia mengingatkan bahwa bantuan yang datang dari berbagai pihak, baik individu, komunitas, maupun pengusaha lintas daerah—adalah bentuk kepedulian kemanusiaan yang tidak boleh dipersepsikan secara sempit. Faris menilai, memelintir bantuan menjadi isu kesukuan hanya akan melukai semangat gotong royong yang selama ini menjadi kekuatan masyarakat Aceh.

“Bencana ini tidak memilih suku. Korbannya juga tidak satu kelompok saja. Maka respons kita pun harus melampaui identitas,” tegasnya.

Faris menyayangkan munculnya ekspresi dan narasi yang bernada ancaman serta kekecewaan kolektif berbasis identitas. Ia menilai hal tersebut berpotensi memperburuk situasi psikologis warga yang sudah terdampak bencana.

“Kalau masyarakat terpecah, yang rugi adalah kita semua. Bantuan bisa terhambat, relawan bisa terintimidasi, dan korban justru makin terabaikan,” katanya.

Ia mengajak masyarakat Tanoh Gayo dan daerah sekitar untuk kembali pada nilai empati dan kearifan lokal dalam menyikapi musibah. Faris menekankan bahwa kritik dan kekecewaan boleh disampaikan, namun harus diarahkan secara dewasa dan tidak menyeret identitas kesukuan.

“Bencana ini ujian kemanusiaan. Cara kita bersikap hari ini akan menentukan apakah kita lulus sebagai masyarakat yang beradab atau justru gagal karena emosi sesaat,” pungkas Faris.

Faris berharap masyarakat dapat menjadi penyejuk di tengah krisis, menjaga suasana tetap kondusif, serta memastikan fokus utama tetap pada keselamatan dan pemulihan warga terdampak.//Redaksi.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button