32 desa di Aceh Tengah masih terisolir

Banda Aceh (Aentenews) – Sebanyak 32 kampung atau desa di empat kecamatan di Kabupaten Aceh Tengah, dilaporkan masih terisolasi setelah banjir dan longsor melanda daerah itu akhir November 2025.
Bardan Sahidi, relawan Aceh Tengah saat dihubungi aentenews.com di Banda Aceh, Ahad, menyatakan droping logistik ke lokasi-lokasi terisolir mengandalkan peralatan sederhana berupa sling atau katrol untuk mengangkut barang dan orang menyeberangi sejumlah sungai di daerah itu.
Disebutkan 32 desa yang masih terisolir itu merupakan wilayah dari Kecamatan Ketol, Rusib Antara, Linge dan Bintang.

Warga duduk di atas kayu gelondongan yang hanyut saat bencana banjir di pemukiman mereka. Foto Ist
Anggota DPRA dua periode, 2014-2024 itu menjelaskan, saat ini penggunaan sling sebagai satu-satu alat transportasi andalan warga mengangkut hasil perkebunan untuk dijual ke Takengon. Saat ini, masyarakat pedalaman Ketol sedang panen durian.
Banjir dan tanah longsor akhir November 2025, tokoh muda dataran tinggi ” Tanah Gayo” itu menjelaskan telah berdampak putusnya jalan dan jembatan, sehingga menyebabkan daerah pedalaman terisolasi.
“Masyarakat sangat berharap segera dilakukan rekonstruksi dan rehabilitasi jalan dan jembatan khususnya, dengan mengerahkan alat berat yang memadai, sehingga akan mempercepat pemulihan, ” kata dia menambahkan.

Dibagian lain, Bardan juga menjelaskan jaringan listrik PLN juga belum memadai, selain sulitnya akses komunikasi disebabkan beberapa desa masih “blank spot” jaringan telekomunikasi.
“Masyarakat korban bencana saat ini mengandalkan genset untuk penerangan. Namun harga BBM seperti solar RP15 ribu per liter di daerah terisolir, ” ujar Bardan.
Ketika ditanya soal kebijakan Pemerintah Aceh untuk melaksanakan proses belajar dan mengajar pada 5 Januari 2026, Bardan menyatakan mustahil dilakukan, sebab sebagian besar gedung sekolah dijadikan sebagai lokasi pengungsian korban bencana.//Redaksi.




