AcehHumaniora

Wirna, bocah bertahan 30 jam di pohon kelapa saat banjir

Banda Aceh (Aentenews) – Dalam berbagai peristiwa, selalu diwarnai dengan berbagai kisah. Ada duka, namun juga tidak sedikit kisah heroiknya seseorang tak kala ia selamat dalam melewati bencana, seperti gempa, tsunami, banjir, tanah longsor, dan puting beliung.

Dalam bencana banjir dan tanah longsor di sejumlah daerah di Aceh, akhir November 2025, di Aceh Utara atau tepatnya di Gampong Matang Linya, banjir bandang yang datang begitu cepat memporak-porandakan rumah serta merendam ladang penduduk setempat.

Semuanya seakan berpacu dengan waktu, warga berupaya untuk menyelamatkan diri mereka dari hantaman air bah, tersebut lah diantaranya adalah Wirna, bocah empat tahun anak dari Rusli, penduduk Gampong Matang Linya, Aceh Utara.

Kisah patriotik Rusli menyelamatkan keluarga dari derasnya banjir, diceritakan ulang kepada Ketua TP PKK Aceh Marlina Muzakir bersama rombongan saat berkunjung ke lokasi pengungsian di desa mereka.

Seperti halnya, Wirna, bocah empat tahun yang merupakan anak dari Rusli, warga Gampong Matang Linya, Aceh Utara. Ayah (Rusli) dan Wirna (anak), mampu bertahan sekitar 30 jam di atas pohon kelapa untuk selamat dari banjir yang menerjang pemukiman mereka.

“Airnya naik sangat cepat, saat suami saya memperingatkan air sudah naik, rumah kami belum terendam, namun tak lama kemudian air sudah selutut. Saya langsung bergegas keluar rumah dan air sudah naik sepinggang,” tutur Kasmadewi, Ibunda dari Wirda.

“Kemudian saya berdiri di atas beton jembatan dan air terus meninggi hingga leher. Akhirnya saya bersama anak dan suami hanyut, dan kami akhirnya tersangkut pada sebatang pohon kelapa,” ujarnya menambahkan.

Saat air mulai surut, kami memberanikan diri turun, lengan suami saya terluka parah karena kuat cengkeramannya di pohon kelapa sementara dia juga menanggung beban tubuh kami, karena kami bergelantung di tubuh suami,” ucap Kasmadewi.

Di desa itu, Marlina Muzakir atau akrab di sapa Kak Na bersama dengan staf ahli TP PKK Aceh Mukarramah Fadhulullah, ikut memberikan pelayanan kesehatan kepada korban banjir.

Kak Na bukan dokter, dan juga bukan bidan, tapi selalu menanyakan tentang keluhan kesehatan warga serta ikut memilih dan menyerahkan obat yang dibutuhkan warga.

Obat-obatan yang dibagikan dan jasa pemeriksaan yang dilakukan oleh para istri pimpinan Aceh ini tentu saja gratis, karena ini merupakan upaya Kak Na dan TP PKK Aceh menjaga kesehatan warga di posko pengungsian.

“Keluhan terbanyak tentu gatal-gatal karena selama ini masyarakat selalu bergelut dengan air dan lumpur. Selebihnya batuk, sakit gigi, demam flu dan beberapa keluhan lainnya,” ujar Kak Na.

Kak Na dan tim juga menyalurkan bantuan tanggap darurat ke posko Gampong Matang Linya, yang didirikan masyarakat di Meunasah Matang Linya. Selain itu, Kak Na juga ke posko Gampong Geumpang Bungkok Kecamatan Baktiya dan posko Gampong Buket Padang Kecamatan Tanoh Jamboe Aye.

Kepada para geuchiek dan warga di posko, Kak Na menjelaskan, dirinya besama tim hanya menyalurkan bantuan yang disumbangkan oleh masyarakat dan sejumlah lembaga, baik lokal, nasional maupun dari negara luar negeri.

“Ini bukan bantuan dari saya tapi dari saudara se-Indonesia, dari lembaga dan organisasi baik lokal nasional maupun dari luar negeri, yang peduli dengan bapak ibu yang terdampak bencana. Kami hanya mengantar, hanya menyalurkan,” ucap Kak Na menjelaskan.//Redaksi.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button