BRA Anugerahi Lebih 100 Wartawan Aktif Peliputan Saat Konflik Aceh
Badan Reintegrasi Aceh (BRA) berencana pemberian anugerah atau penghargaan kepada lebih 100 wartawan dari berbagai media lokal dan nasional yang dinilai aktif meliput saat konflik bersenjata di Aceh hingga proses perdamaian RI-GAM.
“Pemberian anugerah ini sebagai bentuk penghargaan kepada jurnalis lokal dan luar Aceh yang melakukan tugas-tugas jurnalisme meliput konflik hingga fase terwujudnya perdamaian Aceh,” kata Ketua BRA Jamaluddin di Banda Aceh, Sabtu.
Jamaluddin menjelaskan rencana pemberian anugerah itu akan dilaksanakan pada moment peringatan 20 tahun Hari Damai Aceh, yakni pada 15 Agustus 2025.
“Saat ini, tim sedang melakukan verifikasi data nama-nama wartawan yang akan mendapatkan penghargaan itu. Kita melibatkan jurnalis senior dalam tim verifikasi. Kalau sudah selesai kita akan laporkan ke Wali Nanggroe, dan Gubernur Aceh,” kata Jamaluddin.
15 Agustus ditetapkan sebagai Hari Damai Aceh menyusul terjadinya kesepakatan penghentian konflik bersenjata antara RI dan GAM atau yang disebut dengan perjanjian/kesepakatan Helsinki pada 15 Agustus 2005.
Selain untuk wartawan, penghargaan juga diberikan kepada para komunitas budaya serta tokoh lainnya yang dinilai berperan dalam mendorong perdamaian di provinsi ujung paling barat Indonesia itu.
Sementara itu, wartawan senior Aceh Munir Noor mengapresiasi BRA yang memberikan penghargaan kepada para jurnalis yang aktif meliput berbagai peristiwa penting saat Aceh dilanda konflik bersenjata, meski kerja-kerja wartawan saat itu sangat berisiko.
Pemberitaan hasil liputan lapangan yang dilaporkan para jurnalis saat itu mengedepankan independesinya meski terkadang harus berisiko terhadap keselamatan jiwa, ya minimal tekanan psikologis. “Alhamdulillah, konflik bersenjata di Aceh berakhir dengan perdamaian. Jutaan rakyat Aceh menyambutnya dengan gembira,” kata Munir Noor yang ketika konflik Aceh tercatat sebagai wartawan SKH Aceh Ekpres.




