
Banda Aceh (Aentenews) – Wakil Menteri Sains, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Wamen Saintekdikti), Stella Christie, memberikan apresiasi kepada Universitas Syiah Kuala (USK) dalam mengelola riset dan inovasi nilam dari hulu ke hilir yang merupakan preseden penting bagi dunia pendidikan tinggi di Indonesia.
” Atsiri Research Center (ARC) Universitas Syiah Kuala adalah salah satu contoh terbaik bagaimana nilai tambah komoditas nasional bisa meningkat melalui riset” kata Stella Christie saat kunjungan di Pusat Unggulan Iptek Perguruan Tinggi (PUIPT) Nilam USK di Banda Aceh, Jumat (8/5/2025).
Kunjungan Wamen Saintekdikti di USK itu, bertujuan untuk melihat langsung progres inovasi, hilirisasi, dan komersialisasi komoditas nilam sebagai salah satu sektor unggulan dalam meningkatkan ekonomi nasional.
Pada kesempatan itu, Wamen juga meninjau Laboratorium Proses ARC, Rumah Produksi Parfum dan Skincare, serta berdialog interaktif dengan mahasiswa peneliti mengenai masa depan riset di Indonesia.
Kedatangan Wamen Stella Christie disambut hangat oleh Wakil Rektor III USK Prof. Mustanir, Sekretaris Universitas Dr. Meldi Kusuma, serta Kepala ARC PUIPT Nilam USK, Syaifullah Muhammad
“Pemerintah terus mendorong inovasi berbasis riset dengan pemberian insentif langsung kepada dosen peneliti. Kami yakin peningkatan ekonomi negara akan terjadi dengan riset dan inovasi yang berkualitas dari perguruan tinggi,” ujar Stella Christie lebih lanjut.
Sementara, Kepala ARC USK, Syaifullah Muhammad, menjelaskan bahwa fokus utama ARC bukan sekedar penelitian di atas kertas dan dalam laboratorium, melainkan menciptakan dampak nyata bagi masyarakat bawah, khususnya petani nilam dan pelaku UMKM.
Syaifullah menjelaskan dalam 12 tahun terakhir, ekosistem nilam Aceh tumbuh positif dan menciptakan berbagai nilai tambah baru dari proses inovasi riset yang telah dilakukan.
”Hilirisasi nilam menciptakan ekosistem baru industri atsiri Indonesia khususnya di Aceh, sekaligus memberikan nilai tambah ekonomi untuk petani dan UMKM” jelas Syaifullah.
Ia berharap pemerintah perlu melihat dan membangun inovasi serta hilirisasi berbasis riset dari pinggiran Indonesia, agar konteks lokal keragaman hayati dari berbagai pelosok negeri bisa terangkat dengan nilai ekonomi tinggi untuk kesejahteraan rakyat,” pungkas Syaifullah.
Pada kesempatan itu, Wakil Rektor III USK, Prof. Mustanir, menegaskan bahwa pihak universitas akan terus mendukung penuh keberlanjutan program hilirisasi berbasis inovasi riset nilam ini. “USK berkomitmen menjadikan inovasi nilam tidak hanya sebagai pencapaian akademik, tetapi sebagai gerakan ekonomi,” tegas Mustanir.
Atsiri Research Center (ARC) Universitas Syiah Kuala adalah Pusat Unggulan Iptek Perguruan Tinggi (PUIPT) yang berfokus pada riset, pengembangan, dan komersialisasi produk turunan nilam Aceh untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan kemandirian industri parfum serta kosmetik nasional.
ARC dikenal memiliki reputasi dan prestasi di tingkat nasional dan internasional khususnya dalam implementasi hasil riset nilam yang memberikan dampak sosial ekonomi bagi masyarakat.
Aentenews by Ampelsa.




