Aceh TamiangEkonomi

Kepada Satgas PRR, penyintas bencana dipedalaman Aceh Tamiang butuh air bersih

Aceh Tamiang (Aentenews) – Penyintas bencana di daerah terisolir Aceh Tamiang, provinsi Aceh meminta kepada pemerintah untuk segera dibangun fasilitas air bersih berupa sumur bor dan hunian tetap (huntap). 

Hal itu disampaikan warga penyintas bencana kepada Ketua Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera Tito Karnavian, saat berkunjung  di Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Sabtu (4/4/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Tito menyerap langsung aspirasi penyintas bencana yang meminta segera dibangun fasilitas air bersih sumur bor dan hunian tetap (huntap). “Sebagian besar masyarakat ingin dibuatkan huntap komunal, lantaran mayoritas penyintas tinggal di daerah rawan banjir dan luapan Sungai,” kata Ketua Satgas PRR Tito.

Tito memahami keinginan warga tidak ingin penyintas bencana di Desa Sekumur tersebut terterlalu  lama menjalani hidup getir pascabencana. Sebab, katanya, penyintas bencana di Desa Sekumur sempat mengalami keterisolasian cukup lama, karena akses jalan yang sulit dijangkau akibat longsor dan lumpur dari dampak bencana hidrometeorolgi yang menimpa Aceh Tamiang pada akhir November 2025

Dikatakannya, sepulang dari Aceh Tamiang akan segera berkoordinasi dengan Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait untuk membahas rencana pembangunan huntap di Desa Sekumur.  

Selain itu, Tito juga akan segera berkomunikasi dengan PT Perkebunan Semadam yang berlokasi dekat dengan Desa Sekumur, agar berkenan memberikan sebagian wilayah Hak Guna Usaha (HGU) untuk didirikan huntap.

“Kalau sudah clear masalah tanahnya maka tinggal dibersihkan, land clearing dari kabupaten, dan setelah itu nanti dibangunkan oleh Menteri PKP Maruarar Sirait. Beliau sudah minta terus datanya kepada saya,” kata Tito seusai menyalurkan bantuan,  Sabtu (4/4/2026) kepada penyintas bencana.

Selain itu, Tito memastikan selama huntap belum rampung dibangun penyintas bencana tetap mendapat bantuan lauk pauk Rp15.000 per orang per hari selama tiga bulan.  Skema ini disesuaikan dengan target pambangunan huntap yang lebih kurang memakan waktu tiga hingga empat bulan, bergantung dari kecepatan dan kelengkapan data dari pemerintah daerah (pemda).

“Kalau sudah ada datanya, diserahkan Kementerian PKP, maka Kementerian PKP segera turun melakukan survei, dilakukan (pembangunan) dan mungkin tiga hingga empat bulan seperti yang kita lihat di Tapsel (Tapanuli Selatan,” kata Tito.

Dalam kunjungan tersebut, Satgas PRR juga menyalurkan bantuan kepada warga terdampak bencana sebanyak  276 paket perlengkapan ibadah, 276 paket sembako, 276 paket perlengkapan dapur, dan lima tempat penyimpanan air (toren) berkapasitas 2000 liter. 

Paket bantuan ini untuk mendukung percepatan pemulihan sekaligus membantu pemenuhan kebutuhan dasar sosial dan ekonomi bagi penyintas bencana serta memahami langsung kebutuhan hidup para penyintas bencana secara berkelanjutan.

Aentenews by Farid Ismullah.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button