DuniaHumaniora

Ketika ulama Aceh-Brunei bertemu dan saling bercerita, baca lengkapnya

Bandar Seri Begawan (Aentenews) – Ulama kharismatik Aceh Tgk H Muhammad Ali atau akrab disapa Abu Paya Pasi menceritakan sejarah berdirinya Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh kepada Mufti Kerajaan Brunei Darussalam Pehin Datu Seri Maharaja Dato Paduka Seri Setia Dr Ustaz Hj Awang Abdul Aziz Bin Juned.

“Masjid Raya Baiturrahman yang didirikan masa Kerajaan Aceh Darussalam, termasuk perannya yang monumental saat musibah tsunami 2004. Beliau menekankan keteguhan masjid yang kokoh bertahan, menjadikannya simbol tak tergoyahkan dari iman dan sejarah Islam di Aceh,” kata Abu Paya Pasi dalam rilisnya di Banda Aceh, Sabtu.

Abu Paya Pasi juga menjelaskan mengenai prosedur, struktur, dan sistem pengelolaan Masjid Raya Baiturrahman serta program-program ke depan yang direncanakan untuk memaksimalkan fungsi masjid sebagai pusat peradaban Islam.

Mengenai kondisi Aceh saat ini, Abu Paya Pasi menyampaikan bahwa hikmah musibah tsunami dan perdamaian konflik telah dirasakan oleh masyarakat Aceh melalui pemberlakuan Syariat Islam.

“Pasti Allah memberikan yang terbaik untuk hambaNya, mungkin jika bukan karena musibah tsunami, boleh jadi saat ini di Aceh telah dilaksanakan perayaan natal besar-besaran, bebasnya LGBT, semaraknya minuman keras, prostitusi dan berbagai pelanggaran syariat Islam lannya” ujar Abu Paya Pasi.

Sementara itu, Pehin Mufti Brunei turut mengenang bahwa pascatsunami, beliau turut hadir ke Aceh membersamai Sultan Brunei Darussalam yang datang ke Aceh ketika membawa bantuan untuk masyarakat Aceh.

Dari musibah tsunami yang melanda Aceh, Pehin Mufti juga tergerak menyumbangkan beberapa tulisan bertemakan syukur, sabar, dan hikmah dari cobaan yang Allah berikani.

Sang Mufti menegaskan, musibah tsunami merupakan pengingat bagi umat manusia secara umum bukan hanya bagi masyarakat Aceh, dan sunnatullah bahwa musibah bencana alam tidak memilih orang fasik saja tetapi juga menimpa orang shaleh.

Abu Paya Pasi sepenuhnya menyetujui pandangan Pehin Mufti dan menambahkan bahwa orang shaleh yang tertimpa tsunami mendapatkan pahala syahid dan surga, sementara sebaliknya mengikut balasan sebaliknya.

Bagi Abu antara hikmah dari musibah tsunami adalah memantapkan keyakinan “Tidak masalah musibah menimpa manusia selama musibah itu tidak menimpa aqidah dan keimanannya.”

Diskusi juga menyentuh pandangan yang mendalam mengenai kemakmuran hakiki. Abu Paya Pasi memberikan penekanan bahwa kemakmuran harus diukur dari kemampuan menjalankan syariat.

“Sebelum tsunami orang Aceh mulai dilanda kemiskinan, dengan ketidak mampuan membeli kain untuk menutup aurat, hikmah tsunami saat ini orang Aceh mulai mampu membeli kain untuk menutup aurat. Maka penelitian yang mengatakan Aceh menjadi salah satu daerah termiskin di Indonesia perlu dipertanyakan karena saat ini orang Aceh telah mampu membeli kain untuk menutup aurat,” tutur Abu Paya Pasi.

Pehin Mufti kemudian berbagi informasi mengenai kepedulian Kerajaan Brunei Darussalam terhadap syariat Islam dan penerapan fatwa bagi rakyatnya, termasuk perayaan hari besar agama hanya dibolehkan dilaksanakan secara besar-besaran di tempat umum untuk agama Islam.

Selain Islam, kata Pehin Mufti perayaan dibolehkan secara pribadi atau keluarga, namun dilarang di tempat umum karena ini berkaitan dengan aqidah.// T Zulkhairi/Redaksi//

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button