Kuah Beulangong, menu favorit buka puasa bersama Gampong Ateuk Munjeng

Banda Aceh (Aentenews) – Kuah Beulangong menjadi menu favorit buka puasa bersama masyarakat Gampong Ateuk Munjeng, Kecamatan Baiturrahman Kota Banda Aceh, Sabtu, sekaligus peringatan Nuzul Quran atau kenduri “tammat darus” Pada Ramadhan 1447 Hijriyah.
Sejak pagi hari, kaum laki-laki, tua dan muda memadati halaman Meunasah Almukarrahmah Ateuk Munjeng, diawali dengan penyembelihan sapi hingga memasak daging menu Kuah Beulangong.
Ini merupakan tradisi turun temurun yang dilakukan warga di pertengahan puasa Ramadhan. “Ini tradisi yang hidup ditengah masyarakat sejak puluhan tahun lalu, dan sampai saat ini masih kami pertahankan, ” ujar Imam Gampong Ateuk amunjeng, Teungku Hendriansyah.
Bukan hanya menyiapkan menu Kuah Beulangong untu berbuka puasa, tapi sapi yang disembelih itu dibeli dari hasil patungan warga melalui keputusan rapat masyarakat.
Menu berbuka puasa bersama itu juga disumbangkan oleh warga secara sukarela untuk disantap bersama-sama di meunasah. Masing-masing warga menyumbangkan Rp75 ribu untuk satu kupon. Namun, janda tidak dipungut dana patungan atau bahasa Aceh disebut Meuripee.
Dalam prosesi kenduri berbuka puasa itu tidak hanya warga setempat, tapi juga mengundang warga dari gampong lain atau yang terdekat dengan Gampong Ateuk Munjeng.
Hendriansyah mengungkapkan bahwa tradisi kenduri “tammat daruh” tersebut memiliki beberapan makna, diantaranya kepedulian sosial, jiwa kegotong-royongan, kebersamaan sesama penduduk, selain juga nilai-nilai yang dianjurkan dalam Islam.
Semangat kenduri “tammat daruh” juga sebagai istilah melakukan khatam Quran. Sejak malam pertama, masyarakat khususnya remaja dan pemuda gampong melakukan tadarusan (membaca Al Quran) bersama-sama di meunasah.
“Artinya, kenduri buka puasa bersama ini sekaligus menandakan khatan Al Quran, meski nantinya sampai akhir Ramadhan masih ada pengajian warga di meunadah, ” ujar Tgk Hendri.
Kenduri “tammat daruh” selama Ramadhan ini mungkin tidak semeriah dilakukan oleh masyarakat di luar Kabupaten Aceh Besar dan Kota Banda Aceh. “Tahun ini kita memasak sebanyak 27 kuali kuah beukangong,dan masing masing kuali berisi 25 sampai 30 kilogram daging. //Redaksi.




