
Banda Aceh (Aentenews) – Pelaku usaha perikanan di provinsi Aceh menyatakan pemasaran komoditas sektor perikanan daerah itu, terutama untuk ikan tuna sirip kuning hingga saat ini masih mengandalkan pasar domestik, karena peluang ekpor ikan tuna mengalami hambatan dampak dari isu konflik geopolitik
“Peluang ekspor tuna sirip kuning masih sulit dan untuk sementara terhenti, isu konflik geopolitik, menjadi salah satu penyebabnya,” kata pelaku usaha Suplier Ikan dan Seafood, Sy Hermawan di Banda Aceh, Senin (13/4/2026).
Sejak pasar ekspor tuna terganggu, pelaku pasar di daerah itu mengandalkan pasar lokal dan pasar dalam negeri. Pasokan ikan tuna olahan selain untuk kebutuhan Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Aceh juga untuk konsumen domestik.
Terkait ekspor pasar perikanan Aceh, pelaku usaha itu menyatakan selama ini peluang pasarnya ke Bahrain, Qatar dan beberapa negara di Asia, sedangkan untuk pasar Amerika Serikat dan Eropa sulit masuk terkait regulasi perdagangan yang ketat.
Untuk market lokal, terutama kebutuhan MBG peluangnya bagus ditandai dengan daya belinya tinggi. Selain daging olahan tuna segar, termasuk juga ikan cakalang. Namun dalam kondisi seperti itu perlu dukungan dari indutri corporate perikanan.
“Market ikan tinggi, tapi industri corporate perikanan di Aceh masih minim. Persoalan ini salah satu tantangan untuk peningkatkan perekonomiam sektor perikanan. Selain itu fasilitas ekspor komoditas perikanan Aceh belum tersedia, ekspor melalui Pelabuhan Belawan, Medan,” ujarnya.
Di sisi lain, produksi ikan tuna hasil tangkapan nelayan di Aceh tergantung musim. Migrasi ikan menentukan hasil tangkapan nelayan. “Beberapa bulan terakhir hasil tangkapan ikan tuna melimpah dan dalam sehari mencapai 200 ekor hasil pembelian,” katanya.
Untuk saat ini , terutama wilayah Banda Aceh dan wilayah Timur, hasil tangkapan ikan tuna menurun, karena terjadi migrasi ikan ke wilayah Barat dan Selatan Aceh. Dipredikisi pada Mei atau Juni 2026 sudah mulai banyak .
“Hari ini hanya terkumpul 20 ekor tuna dari hasil pembelian nelayan akibat perubahan musim migrasi,” katanya.
Sementara, para toke bangku atau nelayan di Pelabuhan Perikanan Lampulo, mengakui tangkapan ikan tuna lagi sepi. Sementara harga ikan tuna berkisar Rp40.000 hingga Rp43.000 per kilogram tergantung kualitasnya.
Aentenews by Ampelsa.




