BireuenLingkunganTak Berkategori

Jembatan Ambruk Belum Dibangun,  Warga Terpaksa Naik Rakit di Pedalam Bireuen

Banda Aceh (Aentenews) – Pascabencana banjir bandang pada 26 November 2025, masih menyisakan derita bagi masyarakat di daerah terdampak. Akses jalan dan jembatan sebagai jantung menghidupkan perekonomian warga rusak dan desa desa terisolir. 

Seperti yang terjadi di salah satu daerah pedalaman wilayah kecamatan Peusangan Selatan, kabupaten Bireuen, provinsi Aceh. Jembatan Ulee, di Peusangan Selatan, kabupaten Bireuen hingga saat ini belum ada tanda tanda di bangun pemerintah pascabencana banjir akhir tahun 2025.

Jembatan Ulee, merupakan akses penghubung masyarakat dari beberapa desa menuju ibukota Kabupaten Bireuen, Namun, warga terpaksa menggunakan jasa rakit menyeberangi sungai dengan ongkos Rp10.000 hingga Rp15.000 per orang.

Sebanyak tujuh unit rakit dipersiapkan untuk membantu kelancaran transportasi warga pedesaan yang hendak berbelanja barang kebutuhan pangan, mengangkut hasil bumi dan kebutuhan lainnya di ibukota Bireuen. 

Tidak hanya warga, pemandangan yang memprihatinkan ketika siswa  menumpang rakit menyeberangi sungai menuju ke sekolah mereka, baik saat ke sekolah, maupun saat pulang ke rumahnya.

Menurut warga, hal yang mengkhawatirkan para orang tua, ketika mmenyeberangi anak anak berangkat ke sekolah menggunakan rakit saat kondisi debet air sungai meninggi dan arus deras. 

“Kalau sungai deras dan debet air meninggi akibat curah hujan, layanan angkutan penyeberangi rakit tidak beroperasi dan sebagian anak anak tidak sekolah,” kata Chalidin, penduduk Peunganan Selatan, Jumat (10/4/2026). 

Rakit atau Boat ketek sebutan warga di daerah itu, menjadi sarana utama bagi mereka setiap hari, namun jika air sungai naik, boat tidak berani bergerak dan masyarakat terpaksa bersabar. 

Ia mengatakan, setiap hari para guru maupun siswa yang bertempat tinggal di seberang sungai jembatan , bahkan ada yang menetap di Bireuen ke sekolah menggunakan jasa penyeberangan tersebut.

Sementara, Nirwana, warga Peusangan yang melintas saat pulang ke kampung asalnya di daerah itu, mengatakan jalan alternatif terlalu jauh jaraknya melaui desa Awe Geutah yang dilalui kendaraan roda dua dan roda empat. “ Hari ini kami melewati jalur Awe Geutah sebagai jalur alternatif,” katanya.

Warga kecamatan Peusangan Selatan, berharap kepada pemerintah segera membangun jembatan permanen agar trasportasi kembali normal dan dan roda perekonimian masyarakat kembali bangkit pasca bencana alam banjir . 

Aentenews by Ampelsa.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button