EkonomiNasionalPidie JayaTak Berkategori

Pengungsi Sambut Ramadhan di tenda darurat, huntara belum selesai 

Pidie Jaya (Aentenews) – Ratusan pengungsi korban bencana banjir di kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh larut dalam kesedihan karena mereka masih menempati tenda darurat menjelang Ramadhan 1447 Hijriyah, sementara hunian sementara (huntara) yang dijanjikan pemerintah belum selesai dibangun.

Fitriani, pengungsi korban bencana di desa Meunasah Raya, kabupaten Pidie Jaya, Selasa (17/2/2026) menyatakan, hampir tiga bulan pascabencana, ia bersama warga terdampak masih menempati tenda darurat karena huntara belum selesai dibangun dan ditempati sebelum Ramadhan.  

“Menunggu kepastian bahwa huntara selesai dibangun dan ditempati sebelum Ramadhan, ternyata tidak menjadi kenyataan,” kata dengan dana sedih.

Kesedihan korban bencana itu seakan tak bisa di sembunyikannya dan ia menangis  sambil berucap tersedu pasrah  dan harus menerima kenyataan ini. Apalagi saat ini pengungsi merayakan tradisi Meugang Ramadhan di tenda yang kondisinya masih becek dan berlumpur saat musim penghujan. 

Kepala Desa Meunasah Raya, Abdul Halim Ishak, mengatakan sebagian besar pengungsi masih memilih bertahan di tenda darurat meskipun Ramadan sudah di depan mata. Menurutnya, kondisi ini akan menjadi tantangan tersendiri bagi warga dalam menjalankan ibadah puasa.

Abdul Halim menyatakan,  terdapat sekitar sekitar 500 jiwa yang terdiri orang dewasa, anak-anak hingga lanjut usia masih belum memiliki hunian yang layak atau huntara, dan mereka bertahan di tenda darurat.

Sebagian pengungsi memilih bertahan di tenda darurat karena tidak ada pilihan. Tidak semua warga memiliki rumah yang masih layak huni atau kerabat yang bisa ditumpangi. Satu-satunya harapan mereka adalah tersedianya hunian sementara (huntara) atau hunian tetap (huntap) yang dapat segera ditempati.

Terkait bantuan, katanya, pengungsi menyatakan memang sudah cukup banyak diterima, tetapi menjelang Ramadan akan lebih sulit karena keterbatasan. Kondisi pengungsi semakin berat setelah dapur umum tidak lagi beroperasi dan warga korban bencana harus memasak sendiri.

 Abdul Halim menjelaskan, dapur darurat berhenti karena keterbatasan tenaga relawan yang selama ini bekerja secara sukarela tanpa digaji.

Tenaga relawan memasak untuk kebutuhan pengungsi bersifat sukarela dan tidak digaji dan wajar kalau mereka menyatakan jenuh. “Kami tidak bisa memaksa, tetapi kami tetap berupaya agar bantuan bahan pokok terus tersalurkan kepada masyarakat,” katanya.

Aentenews by Ampelsa.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button