AcehHumaniora

Kak Na, mengenggam asa warga pedalaman Aceh

Banda Aceh (Aentenews) – Bergaun muslimah warna dominan putih, tampilannya sederhana, melintas di jalan berbatuan diantara lubang-lubang berair, baginya bukan hal yang baru demi menemui rakyat yang hidup dengan kesederhanaan di desa-desa pedalaman Aceh.

Tersebutlah, namanya Marlina Usman atau akrab disapa Kak Na, isteri Gubernur Aceh Muzakir Manaf.

Meski ia isteri gubernur, namun Kak Na, tetap rajin menyambangi masyarakat pelosok desa, melihat langsung problem warga yang hidup jauh dari pusat-pusat pertumbuhan ekonomi di Provinsi Aceh.

Mendengar aspirasi dan harapan untuk kemajuan serta kemakmuran Aceh dari warga pedalaman, tentunya memiliki nilai lebih karena rakyat di kampung-kampung hanya bercerita apa adanya, tanpa tendesi politik.

Kak Na, juga menjabat sebagai Ketua TP PKK Aceh. Tentunya, banyak cerita inspiratif dalam kunjungannya ke pedalaman provinsi yang berjuluk daerah Serambi Mekah itu.

Tentunya bukan setingan, dalam perjalanan kembali dari Kecamatan Paya Bakong, tiba-tiba meminta sopir menghentikan laju kendaraan yang membawanya.

Dua bocah perempuan di sisi jalan yang sedang kepayahan mengendalikan kereta sorong yang mengangkut dua galong besar berisi air bersih, memantik rasa keibuan Kak Na. Kedua bocah yang terkejut pun menghentikan kereta dorongnya.

“Dari mana ambil airnya nak, ini mau dibawa kemana”? pertanyaan Kak Na sebagai awal pembuka dialog dengan bocah perempuan kampung di suatu hari, 14 Oktober 2025.

“Dari sungai Bu, ini mau dibawa ke rumah untuk kebutuhan masak di rumah,” ujar Cut Shofi, bocah perempuan Paya Bakong, Aceh Utara.

“Dimana rumahnya, sini bunda bantu,” ucap Kak Na sembari mengambil alih kendali kereta sorong. Kak Na pun mulai mendorong kereta bermuatan dua galon besar ke rumah Shofi. Di samping rumah Shofi, wadah penampungan air berjajar dan tersusun rapi.

Shofi bocah kelas 1 SMP adalah contoh anak hebat di pedalaman Aceh Utara. Shofi serta kakak dan adik-adiknya tinggal bersama sang kakek yang telah tua dan sakit-sakitan. Para bocah harus tinggal bersama sang kakek karena kedua orangtuanya telah berpisah.

Jika stok air di rumah habis, maka Shofi harus mengangkut air dari sungai karena di rumah mereka tidak ada sumur. Tak hanya mengangkat air, sepulang sekolah, Shofi bersama kakak dan adiknya saling membantu membereskan pekerjaan rumah lainnya.

Tak ada sumur, apalagi jaringan air PDAM, seperti di kota-kota di Aceh. Tapi, dua bocah kecil ini tak mengeluh, apalagi berputus asa karena mereka sudah ditempa oleh alam, hidup dengan kesederhanaan, dan harus berjuang untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan.

Rasa haru, mendengar cerita tentang kepiluan hidup dua bocah perempuan kampung itu, spontan Kak Na memeluk Shofi, membelai rambut dan memotivasinya agar tetap teguh, dan jangan lupa belajar guna mengapai masa depan yang gemilang.

“Shofi anak hebat, belajar yang giat ya nak. Nanti kalau Shofi ada keperluan sekolah yang mendesak, Shofi sampaikan ke famili yang punya akun tiktok, hubungi bunda via tiktok, Insya Allah bunda akan segera balas,” kata Kak Na, sebelum berpamitan.

Gampong Pantee Bahagia

Sementara di Gampong Pante Bahagia, masih di Kecamatan Paya Bakong, Kak Na mengajak Pemda se Aceh untuk menggencarkan Posyandu, agar upaya pencegahan stunting lebih maksimal dan kesehatan masyarakat bisa selalu terkontrol.

“Pak Bupati dan Ibu Ketua TP PKK Aceh Utara, Pak Kepala Posyandu, tadi saya mendapat keluhan warga yang menyampaikan, di gampong mereka sangat jarang digelar Posyandu.

Menurut informasi dari ibu-ibu di sini, bahkan tiga bulan sekali hingga lima bulan sekali baru ada Posyandu. Ini tentu tidak baik bagi upaya kita mencegah stunting dan memantau kesehatan warga, khususnya anak-anak dan kaum lansia,” ujar Kak Na.

Untuk mencegah terjadinya stunting perlu upaya pemantauan yang intens dari petugas kesehatan terdekat, baik Puskesmas maupun Posyandu.

Memantau dan menjaga asupan gizi anak harus kita lakukan di seribu hari pertama kehidupan, yaitu sejak dalam kandungan hingga sang anak berusia 2 tahun,” sambung Kak Na.

Kak Na menambahkan, jika petugas kesehatan di wilayah terpencil dan pedalaman kurang aktif, maka upaya pencegahan dan penanggulangan stunting akan lebih sulit.

“Kami mengimbau para pemangku kebijakan di seluruh kabupaten dan kota di Aceh untuk memantau dan memastikan para tenaga kesehatan terdekat dengan masyarakat, baik di Puskesmas dan Posyandu memberi perhatian lebih pada upaya penanganan stunting,” imbau Kak Na.

Semoga, berbagai masukan yang diperoleh dari masyarakat pedalaman, apakah itu dalam bentuk kritik, saran atau harapan kepada Kak Na, agar ditindaklanjuti oleh Pemerintah Aceh, sehingga harapan Aceh lebih baik dan maju serta sejahtera kedepan bisa terwujud.// Redaksi

Sumber: Humas Biro Adpim Setda Aceh

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button