EkonomiOpini

Menikmati senja dipantai “sorga bawah laut” Pulau Rubiah

Hari menjelang senja di Pulau Rubiah sambil menikmati secangkir kopi dan sepotong pisang goreng, sebuah momen tak terlupakan, sebagai obat penambah ketenangan jiwa.

Drama tiupan angin sepoi-sepoi mengiring udara sejuk melengkapi cerita tentang indahnya panorama bawah laut Pulau Rubiah, sehingga menjadi obat untuk melupakan kepenatan cuaca panas di kota asal.

Meski mentari mulai turun perlahan ke ufuk barat, langit berubah gradasi menjadi jingga keemasan yang memantul air di permukaan laut sebening kristal, tak sadarkan puluhan wisatawan yang sedang merendam di bibir pantai bahwa hari menjelang malam.

Panorama keindahan bawah laut itu membuat wisatawan tak lelah bercengkerama dengan terumbu karang yang dikelilingi ikan hias. Mirip sebuah akurium raksasa yang terbentang di alam Pulau Rubiah.

Debur ombak yang lembut menyapu pasir putih, angin laut berhembus sejuk, seakan menghipnotis puluhan wisatawan, termasuk para pewarta lintas media yang ikut menyelam di laut hijau kaki bukit Pulau Rubiah.

Puluhan jurnalis yang merupakan peserta media gathering PLN UID Aceh 2026, nyaris lupa diri untuk bangkit dari air laut hijau meski arloji mulai menunjukkan pukul 18.00 WIB, pertanda hari mulai senja.

Meski ketika itu bayangan langit mulai kemerah-merahan dan bukit hijau Pulau Weh di kejauhan melengkapi suasana alam yang begitu damai .

Berbeda dengan sejumlah bule, meski hari mulai memasuki fase gelap, namun mereka tak bergeming duduk di tepi pantai, membiarkan kaki terendam air hangat sore hari, mereka tetap asyik menyaksikan cahaya matahari yang perlahan lenyap di balik cakrawala.

Namun secara umum, baik wisatawan lokal maupun domestik, termasuk puluhan pewarta, menikmati senja di Pulau Weh itu memiliki perasaan yang sama yakni terbius suasana pantai Pulau Rubiah, sehingga seluruh lelah hari itu ikut tersapu ke lautan. Romantis, tenang, dan sulit dilupakan.

Nasir Nurdin, wartawan senior di Aceh menilai Pulau Weh layak menjadi kawasan wisata potensial Indonesia karena didukung keindahan alam yang luar biasa.

Tak hanya keindahan pantai dan panorama alam bawah laut tempat berdiamnya ratusan jenis ikan hias, serta biota laut yang unik, tapi juga didukung keramah tamahan penduduknya.

Aneka kuliner khas Sabang, menurutnya juga menjadi salah satu “magnet” untuk orang memilih berlibur atau berwisata ke Pulau Weh.

“Penduduk Sabang cukup ramah. Kulinernya juga oke, maka layak saya sebut, Sabang kota wisata menarik bagi setiap orang,” katanya menambahkan.

Karena itu, M Nasir Nurdin yang juga Ketua PWI Aceh menyatakan modal alami berupa bentangan alam dan budaya masyarakat itu juga tidak cukup untuk menarik lebih banyak wisatawan ke Sabang.

Untuk itu, dukungan semua pihak, misal pemerintah untuk membangun infrastruktur pendukung di Sabang sangat diharapkan. Kemudian investasi dari kalangan swasta juga diharapkan guna memajukan Pulau Weh.

Dukungan untuk kemajuan sektor pariwisata di Sabang, Nasir juga berharap dari kecukupan energi listrik yang diharapkan dari pihak PT PLN (persero). Energi listrik sangat vital untuk menggerakkan ekonomi, terutama bagi investasi bidang perhotelan.

Tambah kapasitas

Sementara itu, warga Pulau Weh juga mengaku pelayanan kelistrikan pihak PLN di daerah wisata itu semakin membaik dari tahun ke tahun.

“Alhamdulillah, selama ini sudah jarang terjadi pemadaman listrik di kota kami. Atas dasar itu kami sampaikan kinerja PLN sudah semakin membaik, ” kata Jalaluddin, warga Kota Sabang.

Ia berharap PLN sebagai satu-satunya perusahaan yang bergerak dibidang jasa penyediaan kelistrikan terus mengoptimalkan pasakon energi listrik guna mendukung investasi yang siap menggerakkan ekonomi di kota tujuan wisata nasional ini.

Terkait dengan ketersediaan energi listrik, pihak PLN menyebutkan telah menambah kapasitas MW sebagai bentuk dukungan perusahaan “plat merah” itu memajukan sektor pariwisata Kota Sabang.

PT PLN (Persero) terus memantapkan langkah strategis guna memperkuat keandalan pasokan listrik di Kota Sabang, sebagai wujud nyata dukungan terhadap sektor pariwisata dan pertumbuhan ekonomi daerah. Pada 2026, PLN menambah kapasitas pembangkit sebesar 3 Megawatt (MW).

Manager Komunikasi dan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN UID Aceh, Zulfan M Jamil, menyampaikan bahwa penguatan kapasitas ini merupakan komitmen prioritas PLN untuk memastikan kebutuhan energi bagi 16.093 pelanggan di Sabang terpenuhi secara berkelanjutan.

“Penambahan kapasitas ini untuk mengantisipasi lonjakan pertumbuhan beban pelanggan. Fokus utama kami adalah memastikan kecukupan daya tetap terjaga dengan aman, terutama sebagai pasokan pengganti saat ada unit pembangkit yang harus memasuki masa pemeliharaan rutin,” ujar Zulfan.

Saat ini, sistem kelistrikan Sabang dalam kondisi andal yang disokong oleh 12 unit mesin tersebar di PLTD Aneuk Laot dan PLTD Cot Abeuk.

Total daya mampu pembangkit mencapai 7,8 MW. Berdasarkan data pola konsumsi harian, beban puncak pada siang hari tercatat di kisaran 4,08 MW. Sementara itu, beban puncak pada malam hari mencapai rata-rata 6,1 MW dengan titik tertinggi menyentuh 6,5 MW.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa PLN masih memiliki ruang cadangan daya (reserve margin) yang cukup aman.

Kendati demikian, PLN memandang penambahan 3 MW ini sangat esensial untuk menjaga stabilitas jangka panjang dan mencegah terjadinya defisit daya di masa depan.

“Peningkatan kapasitas pembangkit akan memberikan ruang manuver yang jauh lebih aman bagi sistem kelistrikan kami. Keandalan listrik tidak hanya berkaitan dengan penerangan rumah tangga, tetapi menjadi urat nadi bagi aktivitas usaha, fasilitas pelayanan publik, sektor perdagangan, dan tentunya menunjang operasional pariwisata unggulan di Kota Sabang,” tambah Zulfan.

Melalui penguatan keandalan kelistrikan ini, PLN memastikan Sabang semakin siap menyambut kedatangan wisatawan maupun investor dengan pasokan energi yang prima. Upaya berkelanjutan ini diharapkan mampu mendorong roda perekonomian masyarakat agar terus bergerak maksimal.

Langkah PLN dalam menyiapkan dukungan bagi pengembangan sektor industri pariwisata Kota Sabang ini diharapkan dapat diikuti oleh swasta lainnya, sehingga lagu dari “Sabang sampai Merauke” terwujud nyata dalam kerangka pemerataan NKRI.//Redaksi.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button