2.000 hektare padi terancam puso dampak kemarau di Aceh Besar

Foto Ilustrasi. Petani memeriksa kondisi lahan sawah yang baru selesai ditanami padi mulai terancam kekeringan di salah satu desa dalam wilayah kecamatan Simpang Tiga, kabupaten Aceh Besar, Aceh, Kamis (18/6/2026). Aentenews Foto/Ampelsa.
Aceh Besar (Aentenews) – Pemerintah kabupaten Aceh Besar mencatat hingga awal Agustus 2026 sekitar 2.090 hektare lahan sawah yang sudah ditanami padi mengalami kekeringan akibat kemarau, sebagian di antaranya terencam puso atau gagal panen.
Dari seluas 2.90 hektare tersebut, tiga hektare di antaranya sudah mengalami puso dan sekitar 88 hektare lainnya terancam gagal panen jika tidak cepat ditanggulangani dengan bantuan pasokan air atau pompanisasi.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian Aceh Besar, Imam Munandar, Rabu (5/8/2026) mengatakan data luasan lahan sawah terdampak masih bersifat sementara dan terus diperbarui.
“Hingga kini, pihaknya masih melakukan pendataan di lapangan sehingga rincian luas lahan terdampak kekeringan di sejumlah kecamatan belum dapat dipastikan dan tidak kemungkinan meluas,” katanya.
Ia mengatakan, emerintah Kabupaten Aceh Besar terus memperluas penanganan dampak musim kemarau dengan memfasilitasi pompanisasi di sejumlah kawasan persawahan yang mengalami kekeringan, salah satu lokasi yang mendapat penanganan berada di Gampong Capeung Baroh, Kecamatan Seulimeum, Kabupaten Aceh Besar.
Pompanisasi untuk areal lahan sawah di daerah itu sekitar lima hektare yang terdampak berkurangnya pasokan air akibat musim kemarau. Persoalan lain, air irigasi tidak menjangkau lahan sawah sehingga memperburuk kondisi tanaman padi.
Dikatakannya, pompanisasi menjadi solusi cepat untuk memenuhi kebutuhan air di lahan pertanian yang mulai terdampak kekeringan. Dengan dukungan pompa pinjam pakai dari BWS Sumatera I, petani tetap dapat mengairi sawahnya sehingga tanaman padi dapat tumbuh dengan baik,” ujar Imam.
Sesuai arahan Bupati Aceh Besar, katanya, pemerintah daerah akan terus memantau kondisi lahan pertanian yang terdampak kemarau dan menyalurkan bantuan pompanisasi secara bertahap sesuai kebutuhan di lapangan.
“Kami terus berkoordinasi dengan berbagai pihak agar penanganan kekeringan dapat dilakukan secara cepat dan tepat sasaran. Harapannya, petani tetap dapat berproduksi dan terhindar dari risiko gagal panen,” katanya.
Sebagai bagian dari penanganan darurat kekeringan, BWS Sumatera I memfasilitasi sebanyak 20 unit mesin pompa melalui skema pinjam pakai. Hingga saat ini, enam unit telah disalurkan ke sejumlah kawasan persawahan yang mengalami kekeringan di Aceh Besar, sementara sisanya akan didistribusikan secara bertahap sesuai kebutuhan di lapangan.
Sementara, petani mengapresiasi bantuan pompanisasi untuk mengatasi lahan sawah terdampak kekeringan. Namun, di pihak lain petani mengaku kesulitan untuk mendapat sumber air karena genangan air yang masih tersisa air dan selama ini digunakan juga sudah mulai mengering dan selain sumber air sungai berada jauh dari lokasi persawahan.
“Kami harus menggunakan mesin pompa mengambil air sungai yang jaraknya jauh mencapai ratusan meter mengguna pipa. Beban tambahan lainnya, bahan bakar minyak (BBM) untuk mesin pompa sehari sebanyak lima liter per hari,” kata Mayuddin, di desa Lampeunerut, Aceh Besar.
Musim kemarau tidak hanya berisiko pada petani dalam upaya menyelamatkan tanaman padi agar tidak gagal panen. Namun, biaya produksi bertambah karena harus mengeluarkan biaya tambahan membeli BBM untuk mesin pompa.
Aentenews by Ampelsa.




