PCNU Kota Bogor siap menuju Muktamar, berjuang kembalikan marwah PBNU

Keterangan Foto: Ilustrasi bus yang akan membawa rombongan PCNU Kota Bogor, Jawa Barat.
Banda Aceh (Aentenews) – Dengan spirit untuk memperjuangkan kembalinya marwah Pengurus Besar Nadhlatul Ulama (PBNU), Pengurus Cabang (PC) NU Kota Bogor, Jawa Barat, siap berangkat dengan semangat itu menuju Muktamar ke-35 NU, yang terjadwal berlangsung di Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, pada 27-31 Agustus 2026.
“Untuk muktamar ke-35 di Jombang nanti, PCNU Kota Bogor berangkat denga semangat memperjuangkan kembalinya marwah PBNU pada tempat yang semestinya,” kata Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Bogor, H Edi Nurochman, ST, MM dalam taklimat media yang diterima di Banda Aceh, Provinsi Aceh, Kamis (20/6/2026).
Ia menyatakan bahwa kepemimpinan yang sekarang ini sangat disayangkan sudah pecah di tengah jalan dan tidak mampu mengishlahkan dirinya.
“Karena itu PBNU mendatang memerlukan sosok pemimpin yang disegani dan berani menyuarakan kebenaran dan mengingatkan pemerintah jika diperlukan,” kata alumnus Institut Teknologi Bandung (ITB) itu.
Ditegaskannya bahwa PCNU Kota Bogor berharap semua pemegang suara dalam menentukan pilihan nanti semata-mata hanya berdasarkan “basyirah” dan bukan “bisyarah”.
Dalam banyak referensi, makna “basyirah” menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitabnya “Sirr Al-Asrar Fi Mayahtaj Ilayah Al-Abrar” adalah “mata hati, atau mata ruh/bathin,”.
“Basyirah” adalah terma yang merujuk pada pandangan yang berdimensi spiritual. Yakni kemampuan hati untuk memahami kebenaran, membedakan yang baik dan buruk, hak dan bathil, serta melihat tanda-tanda kebesaran Allah SWT, yang muncul melalui kedekatan spiritual (muqorrobah), kontemplasi dan ilmu.
Sedangkan “Bisyaroh” berasal dari bahasa Arab yang berarti kabar gembira.
Namun, dalam penggunaan sehari-hari, terutama di lingkungan pondok pesantren dan keagamaan di Indonesia, kata ini mengalami pergeseran makna menjadi bentuk tanda terima kasih, hadiah, atau uang insentif yang diberikan kepada guru ngaji, ustadz, atau seseorang sebagai bentuk apresiasi atas jasa dan khidmat mereka
Penggunaan di lingkungan pesantren menjadi tradisi lama pengganti istilah gaji atau honor tetap.Diberikan sebagai wujud penghargaan atau ungkapan terima kasih atas pengajaran ilmu. Bersifat sukarela dan tidak kaku seperti standar upah formal.
“Untuk itu, jangan ada yang menjadikan dan mengorbankan NU sebagai alat transaksional untuk keuntungan pribadi sesaat,” demikian Edi Nurochman.
Rombongan PCNU Kota Bogor terjadwal berangkat pada Rabu (26/8) dengan bus melalui pelepasan di Masjid Raya Bogor menuju arena Muktamar NU ke-35 di Ponpes Tambak Beras, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.//Aentenews by Andi Jauhari.




