Banda Aceh “Kota Parfum” sebar wewangian ke pelosok Nusantara

Petani merawat tanaman nilam di daerah pedalaman Desa Umong Seuribe , Kecamatan Lhoong, Kabupaten Aceh Besar. Foto Ampelsa/Aentenews
Banda Aceh (Aentenews) – Jika Paris punya Chanel No 5, maka Banda Aceh punya mimpi besar: menebar wewangian nilam ke seluruh Nusantara, bahkan dunia.
Di ujung Sumatera, kota yang pernah porak-poranda oleh tsunami itu kini merajut ulang identitasnya lewat aroma.
Bukan sekadar slogan. “Banda Aceh Kota Parfum Indonesia” adalah strategi hilirisasi yang menautkan akar budaya dengan ekonomi kreatif. Di baliknya ada emas hijau dari perbukitan Aceh: minyak nilam.
Aroma Emas dari Tanah Rencong. Indonesia, salah satu negara penyumbang terbesar minyak nilam dunia, dan sebagian besar di antaranya berasal dari Aceh. Dengan kandungan patchoulol di atas 30 persen, nilam Aceh jadi rebutan rumah parfum Grasse, Prancis-kiblat parfum dunia.
Satu kilogram minyak nilam bisa tembus Rp 800 ribu hingga Rp 1,2 juta di tingkat petani, dan nilainya tentu berlipat saat jadi parfum.
Data BPS Aceh 2025 mencatat, luas lahan nilam di Aceh mencapai 12.300 hektare dengan produksi 1.800 ton per tahun. Namun ironis, 95 persen masih diekspor mentah. Di sinilah program Kota Parfum masuk: memotong rantai panjang, mengolah sendiri, menjual merek sendiri.
Kolaborasi dan Kebangkitan UMKM
Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’duddin Djamal menyebut ini momentum. “Nilam sudah hidup ratusan tahun di perbukitan kita. Sekarang waktunya kita yang menentukan harganya,” ujarnya saat pelatihan UMKM bersama ILO pekan lalu.
Menurut Illiza, Aceh dikenal sebagai salah satu penghasil minyak Nilam terbaik dunia. “Nilam sebagai tanaman aromatik ini telah tumbuh selama berabad-abad di perbukitan Aceh dan kini menjadi salah satu bahan kunci dalam industri parfum dunia.”
Pemko Banda Aceh juga telah resmi menandatangani Nota Kesepakatan Bersama(MoU) kerja sama dengan ILO di pendopo wali kota.
Illiza menyebutkan bahwa kerja sama ini menjadi langkah strategis dalam mendorong transformasi ekonomi berbasis potensi unggulan daerah, khususnya komoditas nilam.
Banda Aceh memiliki kekuatan besar pada sektor nilam. Melalui kolaborasi ini, Banda Aceh tidak ingin hanya menjual bahan mentah, tetapi mampu menghasilkan produk parfum bernilai tinggi yang berdaya saing global.
ILO tak main-main. Direktur ILO untuk Indonesia dan Timor-Leste, Simrin Singh, menegaskan fokusnya pada rantai nilai inklusif.
“Kami ingin petani nilam naik kelas, dari jual minyak jadi jual parfum. Itu artinya lapangan kerja baru untuk perempuan dan anak muda,” katanya.
Sejak 2024, sudah ada 120 pelaku UMKM yang dilatih meracik parfum, desain kemasan, hingga digital marketing. Brand lokal seperti Serambi Aromatics dan Pucok Nilam mulai unjuk gigi di pameran Jakarta dan Dubai.
Pemko bahkan menyiapkan “Parfum Corner” di Bandara Sultan Iskandar Muda sebagai etalase pertama bagi wisatawan.
Menuju 2035: Sejajar Paris?
Targetnya jelas. Dalam 5-10 tahun, Banda Aceh tak hanya dikenal sebagai kota tsunami, tapi kota wewangian. Jika konsisten, aroma nilam dari bumi Iskandar Muda ini akan bersanding dengan lavender Provence.
Dari duka, Kota Banda Aceh menyuling harapan. Setetes demi setetes, jadi parfum kebanggaan Indonesia.//Redaksi.




