Oleh: Dr. TM Zulfikar, Pemerhati Sosial & Lingkungan Aceh
Banda Aceh (Aentenews) – Padamnya listrik di Aceh akibat jaringan interkoneksi PLN yang “katanya” sudah modern, sesungguhnya adalah pameran kelam ketidakmampuan sebuah perusahaan yang mestinya jadi ujung tombak pelayanan publik.
Bayangkan saja, di era di mana negara lain sudah bicara smart grid dan energi terbarukan, kita masih disuguhi tontonan listrik padam tanpa alasan jelas, seperti drama korea tanpa ujung.
Jaringan interkoneksi yang seharusnya menjadi tulang punggung distribusi listrik justru sering “mogok” tanpa peringatan. Kalau PLN itu sebuah perusahaan, yang ada lebih mirip bengkel abal-abal yang memperbaiki mobil tapi malah bikin mesin tambah rusak. Pemeliharaan? Mungkin cuma kata indah di buku panduan, bukan praktik nyata di lapangan.
PLN kerap menggunakan jargon “perbaikan teknis” untuk menutupi ketidaksiapan dan ketidakefisienan mereka. Padahal yang terjadi adalah pembiaran sistem yang sudah tua, rentan, dan tidak memadai. Sebuah perusahaan yang menyedot anggaran dan biaya tinggi dari rakyat harusnya punya standar pelayanan yang jauh lebih baik daripada ini. Tapi kenyataannya, mereka lebih jago bikin janji daripada merealisasikannya.
Aceh, sebagai daerah yang sering menjadi ujung tombak layanan PLN, diperlakukan seperti ladang eksperimen yang terus menerus dicoba-coba tanpa hasil memuaskan. Warga yang sudah bayar tagihan mahal setiap bulan harus menanggung beban listrik padam berkali-kali, menyebabkan bisnis kecil tutup sementara, pelajar kehilangan akses belajar yang serba digital, dan warga kehilangan kenyamanan dasar yang seharusnya tidak perlu dipertanyakan.
Kalau PLN benar-benar profesional, mereka akan melakukan audit serius terhadap jaringan interkoneksi dan segera mengganti sistem yang rentan ambles itu. Tapi jika PLN terus bersikap seperti “raksasa tidur” yang bangun hanya saat krisis, maka jangan heran kalau kepercayaan publik makin terkikis dan keluhan warga makin menjadi-jadi.
Lebih ironis lagi, ketika warga mulai vokal mengeluh, yang muncul bukan solusi, melainkan alasan klasik yang sudah basi: gangguan teknislah, pohon dan tiang tumbanglah, dan lain sebagainya. Padahal, listrik yang mati bukan cuma soal teknis, tapi soal bagaimana manajemen dan integritas perusahaan itu berjalan. Kalau manajemen sudah bobrok, jangan harap listrik bisa menyala dengan mulus.
PLN, sudah waktunya berhenti main-main dengan nasib jutaan warga. Jangan jadikan Aceh sebagai tempat percobaan sistem abal-abal. Jika tidak mampu menjaga kestabilan jaringan interkoneksi, lebih baik akui saja ketidakmampuan itu, jangan bungkam dan diam sambil membiarkan masyarakat menjerit dalam gelap.
Sebab pada akhirnya, padamnya listrik bukan cuma soal kegelapan fisik, tapi kegelapan harapan dan kepercayaan terhadap institusi yang mestinya hadir untuk melayani, bukan menyiksa.




