Aceh

Meugang ala KWPSI, tradisi merawat budaya endatu jelang Ramadhan

Banda Aceh (Aentenews) – Membawa pulang setumpuk daging khas, ditambah tulang iga serta pernak  pernik bahagian dari sapi yang disembelih pada Uroe Meugang (sehari atau dua hari) menjelang puasa Ramadhan, rutin  dilakukan setiap tahun oleh jamaah Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI).

Sapi yang dagingnya di bawa pulang jamah KWPSI bukan dari bantuan, tapi dibeli dari hasil Meuripee atau patungan, sebuah tradisi yang lahir dari semangat kebersamaan para jurnalis yang berkumpul dalam komunitas yang memiliki misi kepedulian terhadap pelaksanaan Syariat Islam di Aceh.

Selain daging hasil meuripee diperuntukkan kepada anggota dan simpatisan, ada bahagian yang disumbangkan kepada yatim, janda wartawan serta kaum dhuafa, yang melambangkan pesan kepedulian kepada sesama, terlebih disaat memasuki bulan puasa yang salah satunya di anjurkan memperbanyak sedekah.

Untuk suksesnya meugang, KWPSI membentuk panitia dengan tugas-tugasnya mencatat anggota dan simpatisan sebagai peserta meuripee, menentukan nilai daging setumpuk, mengumpulkan data penerima bantuan, serta urusan pembelian sapi sampai proses pembagian dagingnya.

Ada lagi, sambil menunggu sesi pembagian daging,  anggota atau jamaah KWPSI larut dalam suasana silaturrmi seraya menyantap makan siang dengan menu utama “kuah beulangong” dan sajian kopi Ulee Kareng di rumah Bang Din Keramik di Gampong Gla Meunasah Baro, Aceh Besar.

Berdiskusi dengan berbagai topik kekinian mewarnai suasana silaturrahmi KWPSI, yang pada Selasa (17/2) itu turut mengundang anggota DPRK Banda Aceh, Tgk Farid Nyak Umar.

Dalam tausyiah singkatnya, Farid mengatakan bahwa KWPSI telah ikut serta melestarikan adat dan budaya yang diwariskan oleh para endatu bangsa Aceh, khususnya Sultan Iskandar Muda, beberapa abad lampau.

“Ini bukan sekedar meugang menjelang Ramadhan, tapi yang dilakukan KWPSI sarat makna, merawat adat dan budaya, sekaligus penguatan Syariat Islam. Dalam ajaran Islam dianjurkan memperkuat silaturrahmi dan bersedekah, ” kata Politisi Muda PKS itu.

Meugang jelang Ramadhan 1447 Hijriyah KWPSI  bertema; “Merawat Tradisi, Pulih dan Bangkit Bersama” diikuti para wartawan dari berbagai media dan para tokoh senior komunitas tersebut.

Ketua KWPSI, Dosi Elfian dalam sambutan mengatakan bahwa meugang merupakan tradisi yang terus dipertahankan masyarakat Aceh menjelang masuk bulan suci Ramadhan


Yang menariknya meugang bersama KWPSI adalah terjaganya tradisi meuripee (patungan). “Kita mengadakan meugang dengan cara meuripee, inilah nilai yang kita pertahankan,” kata Dosi. 


Pada tahun ini, KWPSI tidak hanya mengadakan meugang bersama para pengurus, tapi juga melakukan meugang bersama anak yatim korban bencana banjir di Pidie Jaya.  

Kolektor manuskrip Aceh Cek Midi, mengapresiasi kebersamaan jamaah KWPSI dan kegiatan meugang bersama ini juga memiliki sejarah panjang, dan nilai positif yang diwariskan oleh para raja Aceh tempo-tempo doelo.//Redaksi

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button