Bencana AlamNasional

Pembersihan material pascabanjir Solok, akses jalan mulai pulih

Akses jalan Padang-Solok mulai pulih pasca banjir Bandung. Foto dok Kementerian PU

Solok (Aentenews) – Akses jalan Nasional Padang-kabupaten Solok yang sempat terputus akibat banjir bandang kembali dibuka untuk lalu lintas pada Selasa (22/9/2026) sekitar pukul 16.00 WIB. 

Kementerian Pekerjaan Umum (PU) memulihkan konektivitas tersebut bersama pemerintah daerah, Forkopimda, BUMN infrastruktur, dan berbagai unsur yang terlibat bergerak sejak kejadian bencana. Pembukaan jalan diprioritaskan untuk memulihkan mobilitas masyarakat dan kelancaran distribusi barang antara Padang dan Solok.

“Alhamdulillah, ruas jalan Solok–Padang yang sempat terputus akibat banjir bandang tadi malam sekitar pukul 23.00 WIB telah kembali dibuka untuk umum,” kata Menteri PU Dody Hanggodo.

Banjir bandang terjadi pada Senin (21/9/2026) sekitar pukul 20.00 WIB setelah hujan berintensitas sedang hingga tinggi memicu luapan Sungai Batang Barus dan longsor. Dampaknya terjadi pada ruas Jalan Nasional Batas Kota Solok–Lubuk Selasih atau Link N.042 Km 36+600, Kecamatan Gunung Talang.

Arus banjir membawa lumpur, batu, dan material kayu yang menutup badan jalan sepanjang sekitar 150 meter. Ketebalan lumpur mencapai 30–50 sentimeter sehingga kendaraan tidak dapat melintasi ruas jalan tersebut.

Kementerian PU melalui Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sumatera Barat mengerahkan satu backhoe loader, satu wheel loader, satu dump truck, dan satu excavator untuk membersihkan badan jalan. Dua excavator tambahan juga dimobilisasi guna mempercepat penanganan.

Meski lalu lintas telah kembali berjalan, pembersihan sisa lumpur dan material di sekitar badan jalan terus dilakukan. Penanganan lanjutan diperlukan untuk memastikan akses tidak hanya fungsional, tetapi juga aman dan nyaman bagi masyarakat.

Balai Wilayah Sungai Sumatera V turut mengerahkan satu excavator long arm untuk menangani dampak banjir. Pembersihan sungai dan muara dilanjutkan untuk memperlancar aliran serta mengurangi risiko material kembali menghambat sungai dan memicu banjir susulan.

Di kawasan hulu, Kementerian PU melakukan kajian dan desain cepat untuk menentukan penanganan permanen yang diperlukan. Kajian tersebut mencakup kemungkinan pembangunan sabo dam sebagai infrastruktur pengendali sedimen dan material banjir.

Dukungan bagi masyarakat terdampak juga dilakukan melalui pengerahan tiga mobil tangki air oleh Balai Penataan Bangunan, Prasarana, dan Kawasan Sumatera Barat. Bantuan tersebut diarahkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih selama layanan masyarakat dipulihkan.

Identifikasi juga dilakukan terhadap infrastruktur permukiman yang terdampak, meliputi pelayanan air minum, sanitasi, dan bangunan pemerintahan. Hasil pemeriksaan akan menjadi dasar untuk menentukan penanganan lanjutan sesuai tingkat kerusakan dan kebutuhan masyarakat.

Aentenews by Ampelsa

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button