Target percepatan huntara wilayah terdampak bencana Aceh-Sumatera

Foto udara kondisi pemukiman penduduk dan lahan pertanian yang rusak dan tenggelam tertimbun lumpur dan kayu akibat bencana banjir dan longsor di wilayah Aceh. Foto direkam 2 Desember 2025. By Ampelsa
Banda Aceh (Aentenews) – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama pemerintah daerah terus mengakselerasi pembangunan hunian sementara untuk warga terdampak bencana dengan target utama penyelesaian sebelum bulan Ramadan.
Dari total 50.367 unit rumah rusak berat, telah diajukan pembangunan hunian sementara sebanyak 27.818 unit dan hingga saat ini sebanyak 6.063 unit masih dalam proses pembangunan dan 871 unit telah selesai dibangun dan siap dihuni.
Hal itu disampaikan Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari dalam laporan perkembangan percepatan penanganan darurat dan pemulihan bencana di provinsi Aceh, Sumut dan Sumatera Barata pada Ahad (18/1/2026).
“BNPB bersama pemerintah daerah terus mengakselerasi pembangunan hunian sementara untuk percepatan pemulihan,” kata Abdul Muhari.
Selaian percepatan pembangunan hunian sementara (huntara), pemerintah juga terus berupaya pembukaan dan pembersihan akses jalan dan jembatan, serta pemulihan kawasan permukiman agar wilayah terdampak semakin kondusif untuk dihuni kembali.
Seluruh kegiatan tersebut dilaksanakan oleh tim gabungan yang terdiri dari pemerintah daerah, TNI, Polri, serta kementerian dan lembaga terkait lainnya, tambahnya.
BNPB menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat koordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait, pemerintah daerah, TNI, Polri, relawan, serta seluruh unsur masyarakat guna memastikan penanganan bencana berjalan secara efektif, terukur, dan berkelanjutan.

Petugas memasukan bahan semai ke dalam pesawat Cessna PK SNP untuk modifikais Cuaca pasca bencana banjir di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM), kabupaten Aceh Besar, Aceh. Foto direkam pada 29 November 2025.
Dengan sinergi yang solid, percepatan pemulihan infrastruktur dasar, pemenuhan kebutuhan hunian layak, serta penguatan langkah mitigasi diharapkan mampu mengembalikan kehidupan masyarakat terdampak secara bertahap menuju kondisi yang lebih aman, tangguh, dan berdaya dalam menghadapi risiko bencana di masa mendatang.
Sementara itu, terkait distribusi logistik berdasarkan laporan yang himpun sejak 29 November 2025 hingga 17 Januari 2026, total bantuan logistik yang telah disalurkan untuk masyarakat terdampak mencapai 1.757,03 ton.
Distribusi tersebut dilakukan melalui berbagai moda transportasi, yakni 56 sorti dengan pesawat charter BNPB, 64 sorti pesawat Hercules, 55 truk jalur darat dan jalur laut 7 kapal.
Khusu untuk provinsi Aceh, melalui jalur udara mencapai 9 sorti dengan berat muatan 8 ton, serta melalui jalur darat menggunakan 4 truk dengan muatan 10 ton, sehingga total logistik yang terdistribusi sebanyak 18 ton.
Untuk wilayah Sumatra Utara, distribusi dilakukan melalui jalur darat menggunakan 6 truk dengan total muatan 32,59 ton dan untuk Sumatra Barat, bantuan logistik telah dikirim melalui jalur darat sebesar 2,84 ton menuju Kabupaten Lima Puluh Kota.
BNPB juga melaporkan skema bantuan Dana Tunggu Hunian (DTH) juga terus dioptimalkan untuk mendukung kebutuhan dasar masyarakat terdampak selama masa transisi menuju hunian tetap.

Petugas menurunkan bantuan logistik bencana dari Pesawat Airbus A 400 TNI Angakatan Udara saat tiba di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda, Blang Bintang, Kabupaten Aceh Besar, Aceh. Foto direkam 4 Desember 2025.
Hingga pertengahan Januari 2026, pengajuan DTH telah mencapai 15.346 kepala keluarga. Dari jumlah tersebut, 10.717 rekening penerima telah siap, dan bantuan telah disalurkan kepada 2.695 kepala keluarga.
Sedangkan perkembangan jumlah korban jiwa maupun korban hilang akibat bencana hidrometeorologi basah di tiga provinsi tersebut. Total korban meninggal dunia tercatat sebanyak 1.199 orang, sementara korban hilang sebanyak 144 orang.
Adapun jumlah penduduk terdampak yang masih berada di lokasi pengungsian mengalami penurunan, dari sebelumnya 154.973 jiwa menjadi 135.696 jiwa. Pergerakan jumlah pengungsi ini mencatat adanya pengurangan di Kabupaten Aceh Tamiang sebanyak 19.988 jiwa, serta penambahan pengungsi di Kabupaten Nagan Raya sebanyak 711 jiwa.
Sebagai bagian dari upaya percepatan tanggap darurat dan pemulihan, BNPB juga melaporkan upaya mitigasi risiko bencana hidrometeorologi basah dalam jangka pendek terkait Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Hingga 17 Januari 2026, OMC di wilayah Aceh telah dilaksanakan sebanyak 487 sorti dengan total bahan semai natrium klorida (NaCl) dan kalsium oksida (CaO) sebesar 465.800 kilogram, Sumatra Utara OMC telah dilakukan sebanyak 377 sorti dengan total bahan semai 330.800 kilogram dan Sumatra Barat tercatat 403 sorti dengan total bahan semai mencapai 400.325 kilogram.
Operasi ini bertujuan untuk mengendalikan intensitas curah hujan serta mengurangi potensi terjadinya bencana susulan di wilayah rawan bencana banjir dan longsor.//Aentenews by Ampelsa.




