Banda AcehHumaniora

“Meurujak” tradisi Idul Fitri masih bertahan di Gampong Lampoh Daya

Banda Aceh (Aentenews) – Sejak matahari pagi meninggi atau arloji menunjukkan pukul 9.00 WIB, belasan pemuda dengan membawa pisau dapur yang tajam mulai berkumpul di perkarangan meunasah (mushalla).

Para pemuda yang membawa pisau itu bukan hendak bertarung/berkelahi, tapi sebagai alat untuk memotong  aneka buah yang telah disedikan sebelumnya sebagai bahan membuat rujak, tradisi tahunan setiap hari kedua Idul Fitri di Gampong Lampoh Daya, Kecamatan Jaya Baru Kota Banda Aceh.

Pemuda bahu membahu gotong-royong memotong buah-buah untuk dijadikan rujak yang kemudian dibagikan kepada masyarakat di gampong itu secara gratis.

Lewat tradisi “meurujuk”  atau membuat rujak setahun sekali, para pemuda atau masyarakat Gampong Lampoh Daya menyebutnya sabagai media silaturrahmi antar warga.

“Melalui tradisi merujak ini kami menjalin silaturrahmi, selain juga memupuk jiwa gotong-royong antar warga melalui momen Idul Fitri, ” kata M Isa, tokoh masyarakat Lampoh Daya.

Selain itu, bersama-sama bergotongrong membuat rujak juga memiliki makna kebersamaan antar warga, setelah sebulan penuh melaksanakan puasa Ramadhan.

Biaya untuk membeli buah-buahan bersumber dari patungan warga. “Jadi dari awal membeli buah-buah dari patungan warga, kemudian mengerjakannya secara gotong-royong, ” ujar dia.

Kemudian, rujak yang telah dibungkus  tersebut dibagikan kepada warga untuk dibawa pulang. Tradisi ini sudah berjalan  sejak puluhan tahun lalu, ujar Aiyub, warga lainnya.

Buah-buahan untuk membuat rujak, antara lain pepaya, mentimun, mangga, ketela, jambu air, buah rumbia, dan buah kuini. Sementara bumbunya antara lain, gula merah cair, buah batok, garam, serta asam jawa. //Redaksi

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button