Update bencana: 441.842 warga Aceh terdampak banjir
Banda Aceh (Aentenews) – Berdasarkan data resmi Pemerintah Aceh, Ahad, jumlah masyarakat yang terdampak banjir dan tanah longsor mencapai 441.842 jiwa yang tersebar di sebagian besar kabupaten dan kota di provinsi itu.
Sekretaris daerah (Sekda) Aceh M Nasir di Banda Aceh, menyebutkan dari total warga terdampak bencana itu, tercatat 80 jiwa meninggal dunia dan sebanyak 71 orang dilaporkan masih dinyatakan hilang.
Bencana gempa dan tanah longsor di sejumlah daerah dalam beberapa hari sebelumnya juga mencatat sebanyak 330 orang mengalami luka berat, dan 1.284 jiwa luka ringan.
Sekda juga memaparkan jumlah pengungsi yang tersebar di berbagai lokasi mencapai 207.017 jiwa dan kini ditampung di 229 titik pengungsian di seluruh wilayah. “Pendataan terus dilakukan oleh posko kabupaten/kota untuk memastikan akurasi sehingga memudahkan penanganan lanjutan,” katanya menambahkan.
M Nasir juga menjelaskan bahwa kondisi air di sebagian besar wilayah terdampak sudah mulai surut, namun endapan lumpur akibat banjir memerlukan penanganan tambahan agar proses evakuasi dan pembersihan dapat berjalan maksimal.
Pemerintah Aceh mengonfirmasi bahwa bantuan melalui jalur laut kini telah berlabuh di Pelabuhan Krueng Geukueh. Sementara itu, wilayah yang masih terisolir juga telah menerima bantuan melalui jalur udara, termasuk di Kabupaten Aceh Tengah dan Aceh Tamiang.
Nasir turut melaporkan adanya kendala distribusi komoditas pertanian di Aceh Tengah, dan tercatat 11.000 hektare lahan cabai yang telah memasuki masa panen belum dapat dibawa keluar akibat akses yang masih terbatas.
Untuk itu, Pemerintah Aceh telah berkoordinasi dengan BNPB agar pesawat yang digunakan untuk menyalurkan bantuan logistik dapat digunakan juga untuk memuat hasil panen cabai tersebut agar bisa dibawa keluar dari daerah terdampak.
Terkait masa tanggap darurat ditetapkan selama 14 hari, Nasir menegaskan periode ini harus digunakan untuk memastikan seluruh kebutuhan masyarakat terpenuhi, mulai dari logistik, pelayanan kesehatan, evakuasi, hingga pemulihan konektivitas.
Ia menambahkan bahwa setelah tahap tanggap darurat selesai, pemerintah akan beralih pada fase pemulihan dan rehabilitasi yang lebih komprehensif.
“Selama 14 hari ini kita pastikan semua masyarakat kita sehat, selamat, dan tidak kekurangan suatu apa pun. Akses logistik dan kesehatan juga harus benar-benar menjangkau mereka yang terdampak,” tegasnya.
Lebih lanjut, Nasir juga menyoroti urgensi penanganan hewan yang terdampak bencana, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) untuk segera mengevakuasi bangkai hewan agar tidak menimbulkan dampak kesehatan dan penyakit menular bagi masyarakat.
Sementara itu, BNPB menyampaikan bahwa distribusi bantuan melalui jalur darat, laut, dan udara secara keseluruhan telah menjangkau seluruh wilayah terdampak, meskipun jumlahnya masih terbatas.
BNPB mendorong agar kabupaten/kota dapat menyampaikan data kebutuhan secara rinci agar penyaluran dapat dilakukan lebih cepat dan terukur.
BNPB juga terus berkoordinasi dengan BASARNAS untuk menambah jumlah personel ke wilayah-wilayah terisolir guna mempercepat proses evakuasi. BPBA menegaskan mobilisasi logistik akan terus dilakukan setiap hari guna memastikan tidak ada bantuan yang menumpuk di posko dan semuanya tersalurkan kepada masyarakat secara tepat sasaran.
Adapun terkait perkembangan pemulihan komunikasi, Diskominsa Aceh melaporkan bahwa perangkat Starlink telah dikirim ke beberapa wilayah terdampak seperti Bener Meriah dan Takengon untuk memperlancar koordinasi, mengingat layanan komunikasi konvensional masih belum pulih sepenuhnya.
Pemerintah Aceh berkomitmen untuk terus memperkuat koordinasi dengan BPBA, BNPB, TNI-Polri, serta seluruh SKPA dan lembaga terkait demi mempercepat evakuasi, pemulihan akses, dan penyaluran bantuan hingga kondisi di seluruh wilayah terdampak benar-benar pulih seutuhnya.
Sekda juga mengimbau agar masyarakat tetap tenang dan tidak terjerumus pada informasi yang belum jelas kebenarannya. // Redaksi.




